Putri Koster Dorong Wastra Bali Mendunia dengan Kosep “Satu Jiwa, Tiga Rupa”
- 29 Agt 2026 22:03 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jembrana — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, mendorong wastra Bali tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mampu menembus panggung mode nasional hingga global. Strategi tersebut dituangkan melalui konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa”, yakni seni, bisnis, dan politik kebudayaan.
Konsep ini disampaikan Ny. Putri Koster dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Kabupaten Jembrana, Kamis 27 Agustus 2026. Menurut Ny. Putri Koster, wastra Bali memiliki kekuatan budaya yang tidak dimiliki tekstil pabrikan.
Namun, kekuatan tersebut harus dikelola secara konsisten agar mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus terlindungi dari ancaman hilangnya identitas budaya. “Dekranasda Provinsi Bali ingin mendapatkan legacy terkait dengan fashion di Pulau Bali. Astungkara, ke depannya Bali bisa menjadi pusat mode dunia. Ini harus kita lakukan secara kontinu dan konsisten,” ujarnya.
Ia mengatakan Dekranasda Bali secara berkelanjutan menjalankan tiga program peragaan busana, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show. Ketiga program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri mode berbasis wastra sekaligus meninggalkan warisan bagi perkembangan industri fashion Bali.
Ny. Putri Koster menjelaskan, konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” menempatkan wastra Bali sebagai satu kesatuan antara identitas budaya dan kekuatan ekonomi. “Satu jiwa itu muncul dari rasa seni dan estetika masyarakat Bali, baik dari leluhur kita maupun generasi muda yang ada saat ini, yang diwujudkan dalam bentuk wastra tradisional. Kemudian ada tiga rupa yang bisa memunculkan, mengagungkan, dan memuliakan wastra kita, yaitu seni, bisnis, dan politik kebudayaan,” jelasnya.
Rupa pertama adalah seni. Menurut Ny. Putri Koster, seni menjadi roh dan jiwa yang membedakan wastra tradisional Bali dengan tekstil pabrikan. Motif, proses, dan ikatan dalam wastra Bali tidak hanya menghadirkan unsur estetika, tetapi juga mengandung filosofi, identitas, dan nilai spiritual.
“Seni yang memberi roh dan jiwa dari kain-kain dalam ikatan itu. Di dalamnya mengandung filosofi kuat sebagai anak Bali yang mewakili tanah Bali, yang konon adalah Pulau Dewata, pulau kesenian. Seni akan mengangkat sehingga kain itu punya taksu,” ungkapnya.
Rupa kedua adalah bisnis. Ia menilai pelestarian wastra harus berjalan beriringan dengan peningkatan nilai ekonomi. Wastra Bali harus mampu menjadi sumber penghidupan bagi perajin, terutama para penenun di desa-desa. Nilai ekonomi yang meningkat diharapkan dapat mendorong kesejahteraan perajin sekaligus memperkuat regenerasi penenun.
“Kalau kita ingin melestarikan, maka harus ada nilai ekonominya. Karena kalau tidak ada nilai ekonomi, siapa yang akan meneruskan?” menjadi prinsip yang ditekankan dalam pengembangan wastra sebagai bagian dari industri kreatif.
Sementara itu, politik kebudayaan menjadi rupa ketiga sekaligus benteng perlindungan wastra Bali. Pemerintah, kata Ny. Putri Koster, perlu hadir melalui kebijakan dan regulasi untuk melindungi kain tradisional beserta nilai filosofis, spiritual, dan identitas budaya yang melekat di dalamnya.
“Politik kebudayaan ini menjadi pemungkas dari semuanya karena di dalamnya ada aturan-aturan hukum. Bila kain tenun ini tidak kita lindungi dengan aturan hukum, maka akan hilang,” tegasnya.
Ia menilai kekuatan ekonomi wastra tidak akan bertahan tanpa perlindungan hukum. Persaingan pasar yang ketat dapat membuat produk budaya lokal kehilangan nilai dan identitas apabila tidak memiliki regulasi yang memadai.
“Perekonomian tidak akan terjaga jika tidak ada aturan. Karena dalam dunia bisnis seperti hutan rimba. Kain-kain kita akan menjadi terpuruk dan turun kastanya, tidak punya roh dan taksu-nya,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak menjaga keberlanjutan wastra Bali melalui kerja yang kontinu dan konsisten, mulai dari pelestarian, kreativitas, pengembangan pasar hingga perlindungan hukum.
“Mari kita tenun sepenuh jiwa dan kita lestarikan. Syaratnya harus kontinu dan konsisten. Mari bergerak bersama,” ajaknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....