Hutan Bali Dinilai Berpotensi Dukung Ketahanan Pangan melalui Tumpang Sari

  • 27 Agt 2026 13:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Hutan dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat apabila dimanfaatkan secara tepat tanpa mengganggu fungsi dan kelestarian ekosistem. Pemanfaatan tersebut dapat dilakukan melalui sistem tumpang sari dengan menanam tanaman pangan di sela-sela tanaman utama.

Koordinator Komunitas Eling Ring Pertiwi sekaligus dari Komunitas Temanmu, Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada, kepada RRI.CO.ID, Jumat, 7 Agustus 2026 mengatakan hutan memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pangan, khususnya dengan memanfaatkan ruang di antara tanaman utama. Menurutnya, Bali memiliki budaya pertanian yang kuat sehingga potensi tersebut semestinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat.

“Sebenarnya hutan itu memiliki potensi yang sangat luar biasa karena hutan-hutan itu bisa dijadikan tempat untuk tumpang sarinya tanaman-tanaman produktif pangan. Apalagi Bali ini memiliki budaya agriculture yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah tanaman pangan dapat dikembangkan dengan sistem tumpang sari tanpa harus mengganggu tanaman utama. Tanaman seperti singkong, cabai, labu, hingga kebutuhan pangan lainnya dapat ditanam pada ruang yang tersedia.

Agung Ngurah mencontohkan pendampingan yang pernah dilakukan komunitasnya di wilayah Negara. Dalam praktik tersebut, tanaman utama berupa pohon besar tetap dipertahankan, sementara bagian bawahnya dimanfaatkan untuk menanam sejumlah tanaman pangan.

“Ada yang fokus di waluh. Atasnya memang pohon besar, ada durian kalau tidak salah. Di bawahnya ditanami cabai, waluh, lengkuas, isen, jadi kebutuhan-kebutuhan pokok untuk pangan itu ada di bawahnya,” ungkapnya.

Menurutnya, pola tersebut menunjukkan pemanfaatan kawasan berhutan untuk pangan tetap dapat dilakukan selama memperhatikan fungsi tanaman utama dan kondisi ekosistem. Ia menambahkan, penerapan sistem tumpang sari juga perlu memperhatikan penggunaan bahan pendukung dalam proses budidaya.

Dalam pendampingan yang dilakukan, penggunaan pupuk kimia dihindari dan digantikan dengan bahan organik. “Tanaman pokoknya tetap ada. Contohnya durian, kemudian di sela-selanya, karena durian itu harus berjarak, ditanami tanaman-tanaman produktif pangan. Jadi tidak mengganggu. Penggunaan bahan penunjangnya, pupuknya pun tidak ada yang kimia, semuanya organik,” jelasnya.

Agung Ngurah menilai pemanfaatan hutan sebagai sumber pangan harus tetap berpegang pada prinsip menjaga fungsi kawasan. Menurutnya, masyarakat tidak boleh mengubah fungsi hutan hanya untuk kepentingan lain yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Ia mengingatkan agar pemanfaatan hutan tidak dilakukan dengan cara membabat kawasan tanpa melakukan upaya pemulihan atau reboisasi. “Yang harus dijaga adalah bagaimana hutan itu menjadi sumber energi, sumber kehidupan kita. Jangan menjadikan hutan sebagai komoditas yang di luar fungsi dan perannya,” tegasnya.

Ia juga mendorong masyarakat memahami bahwa keberadaan hutan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, pemanfaatan hutan untuk mendukung ketahanan pangan perlu dilakukan dengan tetap mempertahankan tanaman utama serta menjaga keberlanjutan lingkungan.

Agung Ngurah berharap masyarakat dapat memanfaatkan hutan sesuai fungsi dan perannya sehingga keberadaannya tetap memberikan manfaat bagi kehidupan. “Hutan itu sumber kehidupan kita dan sebagai penunjang ekosistem di bumi dan alam kita. Mari kita jaga hutan dengan baik, manfaatkan hutan dengan fungsi dan perannya yang benar, sehingga akhirnya hutan bisa bermanfaat buat kita semua,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....