MUI Denpasar: Maulid Nabi Momentum Introspeksi dan Teladan Akhlak di Era Digital
- 27 Agt 2026 09:02 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dinilai tidak sekadar menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi dan kembali meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar, H. Khoeron, M.Pd., kepada RRI.CO.ID, Senin, 24 Agustus 2026 mengatakan esensi peringatan Maulid Nabi adalah mengingat kembali sosok Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi seluruh umat manusia.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah tetap relevan meskipun kehidupan masyarakat terus mengalami perkembangan, termasuk memasuki era digital yang membuat interaksi dan penyebaran informasi berlangsung semakin cepat. “Meneladani Baginda Nabi Muhammad harus dilakukan dalam setiap saat. Pada momentum hari kelahiran-Nya, kita introspeksi diri, seberapa selama menjalani hidup ini kita meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW,” ujar H. Khoeron.
Ia menjelaskan, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi sarana untuk melihat kembali perubahan perilaku umat, apakah semakin mendekati nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah atau justru semakin jauh dari ajaran tersebut. Khoeron menegaskan, salah satu misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak. Karena itu, nilai tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan nyata, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi dan media sosial.
“Nilai-nilai ajaran agama Islam itu tidak akan pernah lekang dari perkembangan zaman walaupun zaman sudah sangat maju sekalipun,” ungkapnya.
Ia mencontohkan ajaran Rasulullah mengenai pentingnya menjaga lisan. Menurutnya, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam penggunaan media sosial karena setiap orang memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat secara cepat.
Di tengah maraknya penyebaran informasi di media sosial, masyarakat diminta tidak mudah menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya maupun menyampaikan ujaran kebencian. Khoeron menilai, kebiasaan menyebarkan hoaks maupun ujaran kebencian dapat menimbulkan persoalan bagi orang lain sekaligus menjadi sumber masalah bagi diri sendiri.
“Kalau kita mengirim ujaran kebencian, kalau kemudian kita mengirim berita hoaks, maka itu akan menjadi sumber malapetaka bagi diri kita,” jelasnya.
Selain dalam komunikasi, nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah juga dinilai relevan dengan perkembangan transaksi ekonomi digital. Menurut Khoeron, perkembangan teknologi membuat aktivitas jual beli dapat dilakukan tanpa mempertemukan penjual dan pembeli secara langsung.
Ia menyebut ajaran Islam telah mengatur tata cara bermuamalah, termasuk transaksi dengan sistem pemesanan. Karena itu, perkembangan teknologi tetap dapat berjalan seiring dengan nilai agama selama dilakukan sesuai ketentuan.
“Dengan memperingati Maulid Nabi, kita berupaya mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi untuk kemudian bagaimana kita menjalani kehidupan saat ini,” katanya.
Khoeron berharap momentum Maulid Nabi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong umat untuk memperbaiki perilaku, menjaga komunikasi, serta menerapkan nilai-nilai akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern, termasuk tantangan komunikasi di ruang digital.
“Yang terpenting di dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah bagaimana nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah benar-benar kita praktikkan dalam kehidupan,” pungkas Khoeron.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....