El Nino Tekan Produktivitas Petani Buleleng

  • 26 Agt 2026 06:16 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Buleleng – Fenomena El Nino mulai berdampak pada produktivitas pertanian di Kabupaten Buleleng. Kondisi iklim tersebut membuat sebagian hasil pertanian menurun dan berpengaruh terhadap pasokan komoditas ke sejumlah sektor.

Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Amerta Giri Lesung sekaligus Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Buleleng, I Kadek Agus Indrawan mengatakan, penurunan produktivitas berkaitan dengan kondisi iklim yang mulai memasuki El Nino sejak awal Agustus.

“Kalau untuk di tahun-tahun ini memang ada penurunan karena ini berkaitan dengan iklim. Iklim sekarang ini sudah memasuki El Nino, dimulai bulan Agustus. Jadi memang penurunan produktivitas tanaman juga ada,” ujar Agus.

Menurut Agus, kondisi tersebut turut memengaruhi kelancaran pasokan hasil pertanian. Saat musim kemarau, sebagian tanaman mengalami gagal panen, sementara komoditas lainnya baru memasuki masa pembungaan sehingga hasil yang tersedia untuk dipasarkan menjadi terbatas.

“Jadi itu juga bisa menghambat penyuplaian, baik itu supermarket, restoran, hotel. Karena itu ketergantungan produk kita. Jadi pas musim kemarau ini banyak juga yang gagal panen, sedangkan ada yang memang masa tanamannya baru mulai pembungaan,” katanya.

Agus menyebut kondisi produksi berbeda pada setiap komoditas. Pada tanaman sayuran, misalnya, harga tomat justru turun karena produksi pada musim kemarau cukup banyak. Sementara sejumlah komoditas perkebunan seperti cengkeh memiliki hasil panen yang terbatas.

“Kalau dari segi sayur-sayuran, komoditas yang umum itu seperti tomat. Nah, sekarang tomat harganya sangat-sangat murah. Karena memang panennya di musim kemarau, untuk menghindari serangan penyakit,” jelasnya.

Selain pengaruh iklim, keterbatasan teknologi pengairan juga menjadi kendala bagi petani. Agus mencontohkan kondisi di Pancasari yang berada di dataran tinggi dan berdampingan dengan danau, tetapi petani belum memiliki teknologi yang memadai untuk memanfaatkan sumber air tersebut bagi kebutuhan lahan.

“Kalau di daerah dataran tinggi, seperti di Pancasari, daerah Pancasari itu memang berdampingan dengan danau. Tapi di sana petani itu masih agak kekurangan teknologinya. Jadi masih menyiram menggunakan manual, cuma menggunakan teknologi air yang ditarik untuk penyiraman atau ditampung di daerah tertinggi,” ujar Agus.

Menurutnya, keberadaan sumber air tidak otomatis memudahkan petani dalam mengairi lahan jika belum didukung peralatan yang memadai. Ia juga menyebut terdapat lahan pertanian yang bergantung pada hujan sehingga hanya dapat digunakan untuk budidaya saat musim hujan.

“Kalau di daerah saya itu memang karena lahannya tadah hujan. Memang sayurnya bagus di sana, tapi lahannya tadah hujan. Pada saat musim hujan saja baru bisa berbudidaya di sana. Masih terbatas untuk alat-alat,” katanya.

Di sisi lain, Agus mendorong kerja sama antara petani, pemasok, dan pelaku pariwisata agar hasil pertanian memiliki pasar yang lebih pasti. Menurutnya, kerja sama melalui kontrak dapat membantu petani memastikan hasil produksinya terserap.

“Harapan saya dari supplier-supplier itu agar bisa mengikat petani yang memang benar-benar sesuai dengan apa yang dibutuhkan hotel atau di bidang pariwisata. Jadi produk-produknya bisa berjalan. Artinya petani merasa produknya diambil, dibeli oleh supplier, dan supplier bisa mendistribusikan ke tingkat-tingkat pariwisata,” ungkapnya.

Agus berharap pola kerja sama tersebut tetap memperhatikan kepentingan petani agar tidak hanya menguntungkan pihak pemasok. Sebab, keberadaan petani menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan produk yang dibutuhkan pasar.

“Kalau diistilahkan kita itu kolaborasi. Tapi jangan terlalu merugikan petani. Karena kalau tidak ada petani, tidak akan ada produk yang akan dijual supplier,” pungkas Agus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....