Konsumsi Listrik Bali Tumbuh 8,02 Persen, PLN Siapkan Tambahan Pasokan
- 21 Agt 2026 18:18 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Konsumsi listrik di Bali melonjak 8,02 persen pada Semester I 2026, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di Indonesia. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, pariwisata, dan dunia usaha di Pulau Dewata.
Mengantisipasi tren tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali memperkuat keandalan sistem sekaligus mempercepat penambahan pasokan listrik. General Manager PLN UID Bali Ajrun Karim mengatakan pertumbuhan konsumsi listrik menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Tren tersebut juga terlihat dari pola beban listrik yang relatif tinggi dan merata sepanjang hari.
“Pertumbuhan listriknya melampaui pertumbuhan ekonomi. Bisa disimpulkan bahwa listrik sudah masuk ke semua simpul-simpul kehidupan. Listrik menjadi salah satu instrumen dasar kehidupan. Ketika kebutuhan listrik terus bergerak, itu menunjukkan roda ekonomi juga terus berputar,” ujar Ajrun dalam Temu Media PLN UID Bali di Denpasar, Kamis 20 Agustus 2026.
Pertumbuhan konsumsi tersebut diikuti kenaikan beban puncak sistem kelistrikan Bali yang kini mendekati 1.300 megawatt (MW). Kondisi ini mendorong PLN mempercepat penambahan kapasitas pembangkit untuk memastikan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha tetap terpenuhi.
“Ini menunjukkan bahwa listrik semakin menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi. Karena itu, keandalan pasokan menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan kegiatan masyarakat dan dunia usaha dapat terus berjalan,” kata Ajrun.
Selain menambah kapasitas pembangkit, PLN mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai strategi jangka panjang memperkuat ketahanan energi Bali. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu sumber energi yang dinilai memiliki potensi besar. Teknologi tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai skema, mulai dari PLTS ground mounted, PLTS terapung di waduk atau bendungan, hingga PLTS atap.
Pengembangan PLTS tersebut diarahkan sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 serta program nasional PLTS 100 gigawatt (GW). “PLTS menjadi salah satu tumpuan utama karena pembangunan yang paling mudah dan cepat adalah PLTS, sesuai RUPTL 2025–2034 dan program nasional PLTS 100 GW. Harapannya dengan pengembangan pembangkit energi terbarukan, Bali nantinya dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya,” ujar Ajrun.
Penguatan kemandirian energi menjadi semakin penting bagi Bali yang memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pariwisata dan perekonomian nasional. Keandalan listrik tidak hanya dibutuhkan rumah tangga, tetapi juga menopang hotel, restoran, pusat perdagangan, fasilitas publik, industri kreatif, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Menurut Ajrun, listrik ke depan harus dipandang lebih dari sekadar kebutuhan penerangan. Energi listrik diharapkan menjadi penggerak produktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. “Kami berharap listrik tidak digunakan hanya sebagai media penerangan, lebih jauh, listrik digunakan sebagai penggerak ekonomi mikro maupun makro, penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Dengan konsumsi listrik yang terus tumbuh dan beban puncak yang mendekati 1.300 MW, PLN UID Bali menempatkan penguatan pasokan, keandalan sistem, dan pengembangan energi terbarukan sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan energi sekaligus mengawal pertumbuhan ekonomi Bali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....