Pramuka Jadi Gerakan Nyata Dukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045
- 15 Agt 2026 14:48 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Gerakan Pramuka ikut mendorong generasi muda mengenal ketahanan pangan sejak usia sekolah. Hal ini sesuai dengan tema Hari Pramuka ke-65, “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”.
Pengamat Pendidikan sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Pendidikan Nasional, Dr. Anak Agung Ayu Ngurah Tini Rusmini Gorda, kepada RRI.CO.ID mengatakan tema tersebut sesuai dengan kegiatan Pramuka yang diikuti anak-anak dari tingkat Siaga hingga Pandega. Menurutnya, Pramuka bisa ikut menyiapkan generasi muda yang berkarakter untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Pramuka itu sangat relevan dengan penguatan tema tahun ini, Hari Pramuka ke-65. Sudah sangat tepat bahwa Pramuka yang memiliki banyak anggota, dari tingkat Siaga sampai Pandega, menjadi gerakan yang sangat masif untuk mendukung pencanangan pemerintah menuju 2045, yaitu menghasilkan generasi emas yang berkarakter,” ujar Dr. Tini Rusmini Gorda.
Ia mengatakan pendidikan karakter bisa dimulai dengan mengajarkan anak untuk peduli terhadap lingkungan. Dari kebiasaan itu, anak juga bisa belajar memanfaatkan lingkungan di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan pangan.
“Pendidikan karakter itu menjadi basic untuk bagaimana orang berpikir untuk bisa mencintai lingkungan. Jadi, mendukung lingkungan itu tetap lestari dengan harapan bahwa ada hal yang juga dihasilkan feedback balik dari lingkungan tersebut,” jelasnya.
Salah satu contohnya dengan memanfaatkan halaman rumah untuk menanam kebutuhan pangan keluarga. Menurut Dr. Tini, kegiatan tersebut bisa diberikan sesuai usia anggota Pramuka dan dikembangkan ke pendidikan pertanian yang lebih luas.
“Dari tingkat Siaga itu sudah bisa bagaimana memanfaatkan halaman rumahnya bernilai ekonomi untuk ketahanan pangan, kebutuhan dari internal. Nah, tingkat selanjutnya dan sebagainya itu lebih pada kapasitas, keluasan dari konsep pendidikan pertanian untuk menjadi kita bisa swasembada pangan,” katanya.
Menurut Dr. Tini, kebiasaan memanfaatkan lingkungan untuk kebutuhan pangan juga bukan hal yang asing bagi masyarakat Bali. Ia mencontohkan, sejak dahulu masyarakat memanfaatkan tanaman di sekitar rumah untuk berbagai kebutuhan, termasuk keperluan adat dan upacara.
“Kalau di Bali, bagaimana bisa mengembalikan lagi situasi dulu tetapi lebih dimodifikasi bahwa di sekitar rumah itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dari pangan kita,” ujarnya.
Ia berharap kebiasaan tersebut bisa dikenalkan kembali kepada anak-anak melalui kegiatan Pramuka di sekolah. Orang tua juga dapat melanjutkannya di rumah agar kegiatan yang dilakukan anak tidak berhenti ketika berada di sekolah.
Menurutnya, tema swasembada pangan dalam Hari Pramuka ke-65 perlu diwujudkan melalui kegiatan yang benar-benar dilakukan anggota Pramuka. Gerakan sederhana dari rumah dan sekolah diharapkan bisa berkembang menjadi kebiasaan yang mendukung kemandirian pangan.
“Ini harus menjadi contoh untuk gerakan, tidak asal sekadar untuk tema, tetapi implementasinya sangat bisa dilaksanakan,” katanya.
Dr. Tini menilai Pramuka juga bisa mengajak anggota keluarga dan lingkungan sekitar untuk melakukan hal serupa. Dengan pendidikan karakter dan kebiasaan memanfaatkan lingkungan sejak dini, generasi muda diharapkan lebih peduli, mandiri, dan ikut mendukung swasembada pangan menuju Indonesia Emas 2045.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....