Unud Kembangkan Teknologi Murah Kendalikan Lalat Buah
- 14 Agt 2026 14:30 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Bangli — Universitas Udayana mengimplementasikan teknologi pengendalian hama lalat buah berbasis atraktan alami dan perangkap di Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Sabtu 8 Agustus 2026. Teknologi yang dikembangkan Tim Peneliti Fakultas Pertanian Unud tersebut ditujukan sebagai alternatif pengendalian hama yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan bagi petani.
Implementasi teknologi ini merupakan bagian dari Riset Strategis Institusi (RSI) Universitas Udayana yang didanai Unud. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Unud memperkuat peran sebagai Kampus Berdampak dengan memastikan hasil penelitian dapat diterapkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc., menjelaskan lalat buah merupakan salah satu hama utama yang merusak berbagai jenis buah. Keberadaan hama tersebut juga menjadi tantangan bagi petani dalam menghasilkan produk hortikultura yang memenuhi persyaratan pasar ekspor.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim mengembangkan kombinasi atraktan alami Definol dan perangkap Jebags. Definol menggunakan formulasi minyak cengkeh dan minyak pala yang mampu menarik lalat buah hingga jarak sekitar 2,5 kilometer sekaligus melumpuhkannya. Lalat yang telah lumpuh kemudian jatuh ke dalam air pada perangkap Jebags.
Kedua produk tersebut telah didaftarkan untuk memperoleh hak paten. Teknologi itu dilaporkan mampu menangkap hingga sekitar 1.000 lalat buah per minggu pada wilayah dengan populasi tinggi.
Dari sisi biaya, penerapan teknologi tersebut membutuhkan sekitar Rp500 ribu per hektare, sedangkan penggunaan insektisida kimia dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hektare.
| Baca juga: PT PLN Luncurkan New AP2T |
Implementasi dilakukan pada areal tanaman jeruk seluas sekitar 15–18 hektare di Desa Belancan serta luasan yang sama di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa KKN Universitas Udayana sebagai bagian dari upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat secara langsung.
Prof. Dewa Suprapta mengatakan pengendalian lalat buah akan lebih efektif apabila diterapkan secara luas melalui konsep wide aerial management dengan cakupan minimal 200 hektare.
Karena itu, pengembangan teknologi tersebut membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pihak agar penerapannya dapat dilakukan secara lebih luas di Bali.
Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menegaskan riset dan inovasi yang dikembangkan Unud harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan tidak berhenti pada kegiatan penelitian maupun publikasi.
“Kita berharap riset-riset dan inovasi yang dilakukan benar-benar berbasis pada permasalahan yang dihadapi masyarakat, sehingga tidak berhenti di meja laboratorium atau publikasi, tetapi benar-benar berdampak dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat,” ujar Prof. Ir. I Ketut Sudarsana.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, S.P., M.Agb., menyambut baik inovasi tersebut karena dinilai sejalan dengan aspek keamanan pangan dan ramah lingkungan. Pemerintah Provinsi Bali juga mendorong keberlanjutan kolaborasi dengan Unud dalam pengendalian hama lainnya.
Melalui penerapan teknologi tersebut, Unud mendorong hasil riset dan inovasi agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat, sekaligus membuka ruang pengembangan teknologi pengendalian hama yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....