Kebun Jeruk Disulap Jadi Coffee Shop, Petani Selulung Kintamani Buka Sumber Cuan

  • 10 Agt 2026 13:44 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Bangli - Hamparan kebun jeruk milik Kelompok Tani dan Ternak Selulung Jagaditha di Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, kini tak lagi sekadar lahan produksi. Sebuah coffee shop berdiri kokoh di tengah kebun, menghadap panorama pegunungan yang sejuk, dan resmi mengubah wajah pertanian desa menjadi destinasi agrowisata berbasis pengalaman.

Transformasi itu merupakan buah dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Kemitraan Luar Negeri yang menggandeng empat perguruan tinggi sekaligus: Universitas Warmadewa (Indonesia), Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Universitas Airlangga, dan Universitas Surabaya. Kegiatan ini dibiayai melalui skema Hibah Internal Institusi Universitas Warmadewa Tahun 2026.

Selama ini, pendapatan para petani Selulung sangat bergantung pada satu komoditas: jeruk. Ketergantungan tunggal itu membuat mereka rentan terhadap anjloknya harga, perubahan cuaca, serangan hama, hingga ketidakpastian pasar.

Sebagian besar hasil panen, baik jeruk maupun sayuran tumpang sari, dijual mentah tanpa pengolahan, sehingga nilai tambah yang diterima petani rendah. Padahal Selulung menyimpan modal besar: lanskap alam yang indah, udara sejuk, dan nama besar kopi Kintamani yang sudah dikenal hingga mancanegara.

Berangkat dari kondisi itu, tim PkM merancang solusi hilirisasi—mendekatkan petani ke pasar sekaligus menaikkan nilai jual—melalui coffee shop berbasis kebun dan pemasaran berbasis cerita (storytelling). “Kami ingin kebun jeruk mitra tidak hanya menghasilkan saat panen. Dengan coffee shop dan agrowisata, ada sumber pendapatan baru yang lebih stabil, bahkan saat harga jeruk sedang turun,” Dr. I Made Wianto Putra, S.E., M.Si. — Ketua Tim Pelaksana PkM Universitas Warmadewa

Pembangunan fisik coffee shop dikerjakan bertahap sejak awal Mei hingga akhir Juni 2026. Lokasinya sengaja dipilih di tengah kebun agar pengunjung bisa menyeruput kopi sembari memandang langsung hamparan pohon jeruk dan sayuran.

Bukaan kaca yang lebar dirancang untuk memaksimalkan cahaya alami sekaligus membingkai pemandangan kebun. Yang menarik, pengerjaannya melibatkan tenaga kerja lokal, sehingga langsung membuka lapangan kerja dan menumbuhkan rasa memiliki warga.

Sebelum dioperasikan, bangunan menjalani prosesi penyucian secara adat Hindu Bali, yakni upacara melaspas, pada Jumat, 3 Juli 2026. Ritual ini dimaknai sebagai penyeimbang unsur material dan spiritual bangunan, sekaligus penegasan bahwa pengembangan agrowisata di Selulung tetap menjunjung kearifan lokal.

Sehari berselang, pada Sabtu, 4 Juli 2026, coffee shop resmi diresmikan dan mulai beroperasi. Puncak kegiatan digelar pada 11 Juli 2026 dalam bentuk podcast storytelling agrowisata, langsung dari coffee shop yang baru diresmikan.

Dipandu akademisi bidang pariwisata Dr. I Made Suniastha Amerta, S.S., M.Si., podcast ini menghadirkan Mr. Temi, wisatawan asal Prancis, sebagai host yang berbagi kesan menikmati suasana kebun jeruk dan kopi Kintamani. Ketua kelompok tani, I Ketut Darmada, S.Par, turut bercerita tentang seluk-beluk budidaya jeruk dan kearifan lokal Selulung.

Format podcast dipilih karena konten cerita berbasis audio-visual dinilai paling efektif menjangkau audiens muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z. Konten yang dihasilkan bisa terus dimanfaatkan sebagai materi promosi digital berkelanjutan—memperluas jangkauan destinasi hingga ke pasar wisatawan mancanegara.

“Dulu kebun ini hanya untuk bertani. Sekarang bisa jadi tempat orang datang, menikmati kopi, belajar soal jeruk, dan membeli hasil kebun langsung dari petani,” I Ketut Darmada, S.Par — Ketua Kelompok Tani dan Ternak Selulung Jagaditha

Melalui rangkaian kegiatan ini, kebun jeruk mitra bertransformasi dari sekadar areal produksi menjadi ruang edukatif sekaligus rekreatif. Coffee shop menautkan sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan pariwisata dalam satu rantai yang saling menguatkan. Selain membuka lapangan kerja baru, model ini diharapkan menekan arus urbanisasi anak muda desa ke kota.

Ke depan, tim PkM merencanakan pendampingan operasional coffee shop secara berkelanjutan, penguatan pencatatan keuangan usaha, pengembangan konten promosi digital, hingga replikasi model agrowisata kopi berbasis tumpang sari ini kepada petani lain di Desa Selulung. Harapannya, program tak berhenti pada bangunan fisik, melainkan benar-benar melahirkan sistem ekonomi lokal yang berkelanjutan di kaki pegunungan Kintamani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....