KKI Bali: Kehadiran Ayah Jadi Kunci Cegah Fatherless pada Anak
- 30 Jun 2026 07:37 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang diperingati pada tanggal 29 Juni 2026 menjadi pemantik penting untuk menggaungkan gerakan kesetaraan pengasuhan anak. Dengan mengangkat tema "Ayah Wajib Hadir", momentum ini diharapkan mampu menekan tingginya fenomena fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah secara emosional di Indonesia.
Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi Bali sekaligus Koordinator Kajian Ekonomi dan Sosial Budaya Ikatan Alumni Universitas Udayana, Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE., MSi., kepada RRI.CO.ID, Minggu, 28 Juni 2026 menyatakan dukungannya terhadap tema yang diinisiasi oleh Kemenko PMK dan BKKBN tersebut. Menurutnya, statistik nasional menunjukkan angka ketidakhadiran sosok ayah masih cukup tinggi.
"Kita melihat kalau kita lihat secara statistik itu banyak dari keluarga-keluarga Indonesia itu yang mengalami yang namanya fatherless, atau ketidakhadiran dari sosok ayah. Di Indonesia, sekitar 25,8% ya enggak salah, itu terjadi yang namanya fatherless," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa fatherless merupakan kondisi di mana anak tumbuh tanpa keterlibatan aktif, kehadiran emosional, atau bimbingan dari seorang ayah. Dampak dari fenomena ini pun tidak bisa disepelekan karena memicu masalah emosional, psikologis, hingga gangguan perilaku pada anak.
"Dampak serius seperti masalah emosional dan psikologis. Seperti misalnya, emosi anak yang tidak terkendali, krisis kepercayaan diri seorang anak, kemudian merasa tidak berharga, kemudian berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Tanpa figur seorang teladan dan juga penegakan aturan di rumah, kemudian itu akan menyebabkan anak rentan terjerumus pada kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan juga penyalahgunaan zat-zat tertentu," ungkap Murjana Yasa.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa beban ganda akibat ketidakhadiran ayah juga berisiko memicu stres pada ibu yang dapat berujung pada disharmoni keluarga. Akar masalah ini sering kali bersumber dari budaya patriarki yang menumpuk tanggung jawab pengasuhan hanya pada ibu, serta tingginya mobilitas kerja dan tuntutan ekonomi.
Meskipun angka fatherless di tingkat nasional tergolong tinggi, Provinsi Bali justru mencatatkan performa terbaik dengan persentase terendah di Indonesia. "Khusus untuk di kita di Bali, di mana Bali itu adalah merupakan contoh terbaik di Indonesia. Kalau tadi saya katakan di Indonesia itu sekitar 25,8% fatherless terjadi, di Bali itu sekitar 15%. Jadi rendah, cuma 11-15% dari 1,1 juta keluarga. Dan ini terbaik di Indonesia," jelasnya.
Rendahnya angka tersebut didukung oleh kuatnya tradisi lokal di Bali yang menempatkan peran ayah dalam pengasuhan dan pembentukan karakter anak sejak dini melaui konsep Guru Rupaka (orang tua sebagai guru pertama). Murjana Yasa mencontohkan beberapa praktik baik kebudayaan Bali yang mendukung hal ini, seperti tradisi menanam ari-ari pasca melahirkan hingga tradisi mendongeng.
"Menerapkan tradisi mesatua (mendongeng) tadi. Ada cerita-cerita menarik yang diberikan kepada seorang anak. Misalnya Si Kancil yang cerdik atau cerita Siap Selem seperti orang Bali banyak ketahui, yang biasanya bisa diberikan oleh seorang tua, seorang ayah ketika menidurkan anak. Dan ini biasanya cerita-cerita seperti itu berisi tentang petuah-petuah yang bagus, petuah-petuah kepahlawanan, kecerdikan," tuturnya.
Selain itu, keterlibatan ayah dalam mengajak anak bersembahyang bersama pada hari libur serta melatih kepekaan sosial melalui kegiatan gotong royong dinilai efektif memperkenalkan konsep dharma (kesusilaan) kepada anak. Sebagai langkah konkret, KKI Bali mendorong adanya penguatan edukasi parenting pranikah bagi para calon ayah agar tidak hanya siap secara finansial, melainkan juga siap secara mental dan emosional.
Ia juga mengusulkan adanya dukungan kebijakan tempat kerja yang ramah keluarga, termasuk pemberian cuti melahirkan bagi ayah guna mendampingi istri dan mencegah terjadinya baby blues. Bagi para ayah yang memiliki keterbatasan waktu akibat tuntutan pekerjaan yang tinggi, ia berpesan untuk memanfaatkan waktu luang di akhir pekan secara optimal demi memberikan pengasuhan yang berkualitas.
"Jadilah orang tua utuh. Jadilah ayah yang utuh, bukan ayah yang sekadar hadir. Memanfaatkan waktu luang sedemikian rupa, khususnya pada hari Sabtu, Minggu, dan juga hari-hari libur yang lain untuk menyiapkan waktu yang berkualitas," tegasnya.
Apabila terjadi kondisi yang tidak terhindarkan seperti perceraian atau kematian, Murjana Yasa menyarankan optimalisasi program ayah angkat agar anak tetap mendapatkan figur pelindung. Menurutnya, pemenuhan peran utuh seorang ayah ini menjadi kunci utama dalam melahirkan generasi emas menyongsong masa depan bangsa.
"Semua ini yang kita harapkan adalah mengurangi fatherless tadi. Dan syukur-syukur Bali terendah ini sangat bagus bisa kita pertahankan dan bila perlu kita tekan ke depan, karena ada harapan besar yang ingin kita capai ke depan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia kita menuju harapan Indonesia Maju 2045," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....