Nuanu Perkuat Ekosistem Budaya dengan Kolaborasi di FOTO Bali Festival 2026
- 12 Jun 2026 09:53 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Tabanan - FOTO Bali Festival 2026 yang diselenggarakan di Nuanu Creative City, Tabanan, terus berkembang melampaui konsep pameran fotografi konvensional. Festival yang berlangsung pada 3 Juni hingga 12 Juli 2026 itu tidak hanya menghadirkan karya seniman dari berbagai negara, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara sektor publik, institusi pendidikan, komunitas kreatif, dan swasta untuk memperkuat ekosistem fotografi di Indonesia.
CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, mengatakan FOTO Bali Festival menjadi wadah yang mempertemukan berbagai perspektif dan pemangku kepentingan sehingga mampu melahirkan kolaborasi yang nyata bagi perkembangan seni dan budaya visual. "Bagi Nuanu, FOTO Bali Festival adalah tentang bertemunya berbagai perspektif dalam bentuk yang dapat dilihat secara nyata. Kami merasa terhormat dapat menjadi platform tempat berbagai pemangku kepentingan dengan latar belakang yang berbeda dapat berkumpul dan berkolaborasi." ujar Lev Kroll.
Memasuki edisi kedua, FOTO Bali Festival mengangkat tema AFTERIMAGE yang dikurasi oleh Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari. Festival ini menghadirkan 38 seniman dari 24 negara melalui pameran, photobook, karya multimedia, diskusi, lokakarya, pemutaran film, hingga berbagai program publik.
Selain menghadirkan seniman internasional, festival juga membangun kolaborasi dengan MTN Seni Budaya, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, dan Bali Motion Club. Melalui kerja sama tersebut, lebih dari 58 seniman dan praktisi Indonesia terlibat dalam berbagai program, mulai dari pameran LIGHTS IN FRAME, pameran kelompok ISI Bali, hingga presentasi dome bertajuk The Voyager.
Festival Director FOTO Bali Festival, Kelsang Dolma, menilai pengembangan fotografi tidak cukup hanya menyediakan ruang pamer. Menurutnya, ekosistem kreatif membutuhkan dukungan yang lebih luas agar praktik seni dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Seniman memang membutuhkan ruang untuk memamerkan karya mereka, tetapi mereka juga membutuhkan mentor, pendidik, komunitas, institusi, dan audiens yang terus mendukung praktik tersebut bahkan setelah sebuah pameran berakhir." ungkap Kelsang Dolma.
Ia menambahkan bahwa FOTO Bali Festival bukan hanya mengenai karya yang dipajang di ruang pamer, tetapi juga tentang percakapan, pembelajaran, pertukaran gagasan, serta hubungan yang tercipta di sekitar festival sebagai bagian dari pembangunan ekosistem budaya. Sementara itu, kolaborasi bersama ISI Bali juga membuka ruang bagi mahasiswa dan akademisi untuk mempresentasikan karya serta berdialog langsung dengan kurator, praktisi, institusi, dan publik internasional.
Di sisi lain, Bali Motion Club menghadirkan presentasi berbasis dome yang memperluas praktik fotografi ke dalam format yang lebih imersif dan kolaboratif. Melalui berbagai kolaborasi tersebut, Nuanu Creative City menunjukkan bahwa pengembangan budaya tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik, tetapi juga jaringan, akses pengetahuan, ruang kolaborasi, serta dukungan jangka panjang bagi para seniman dan komunitas kreatif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....