Tolak Investor, Karangsewu Gilimanuk Dikelola Mandiri Masyarakat Lokal

  • 01 Jun 2026 09:04 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jembrana - Kawasan wisata tradisional Karangsewu di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) kini resmi mandiri. Menolak mentah-mentah masuknya modal asing atau investor besar, pihak TNBB memilih menyerahkan penuh tata kelola surga tersembunyi ini kepada masyarakat lokal Kelurahan Gilimanuk, Jembrana.

Langkah berani ini terbukti berbuah manis. Hanya dalam waktu singkat sejak resmi dikelola warga pada Januari 2026, kawasan ini langsung mencatatkan perputaran ekonomi yang luar biasa.

Pengelolaan destinasi ini kini berada di bawah kendali Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu, yang merupakan peleburan dari tiga kelompok nelayan tradisional setempat diantaranya, Kelompok Nelayan Karangsewu, Kelompok Nelayan Teluk Asri dan Kelompok Nelayan Segara Merta.

Kepala SPTN Wilayah I Jembrana, Isai Yusidarta, menegaskan bahwa keputusan ini adalah sejarah baru bagi TNBB dalam membangun pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism).

"Kami sudah menandatangani kontrak dengan masyarakat. Jadi tidak boleh ada investor masuk. Kawasan ini memang disiapkan untuk masyarakat agar bisa berkembang, mengelola wisata, dan mendapatkan penghasilan tanpa merusak bentang alam yang ada," ujar Isai tegas.

Strategi perlindungan hak warga lokal ini langsung berdampak instan pada kesejahteraan masyarakat. Ketua Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu, Baehaqi, membeberkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, omzet yang berhasil dihimpun kelompoknya telah menembus angka Rp250 juta.

Aktivitas camping menjadi magnet utama yang menyedot perhatian wisatawan, dengan rata-rata kunjungan mencapai 200 orang per bulan. Pada akhir pekan atau hari libur, angka kunjungan bisa melonjak hingga 85 orang per hari, didominasi oleh pelancong asal Bali dan Pulau Jawa.

Selain berkemah, wisatawan juga dimanjakan dengan ragam aktivitas ekowisata, seperti, bird watching (pengamatan burung), bermain kano, menyusuri hutan mangrove menggunakan perahu tradisional, dan memancing di zona perikanan tradisional.

Ke depan, pihak pengelola tengah bersiap mengeksplorasi potensi wisata minat khusus lainnya, mulai dari diving, fotografi bawah laut, hingga program edukasi lingkungan seperti adopsi mangrove dan terumbu karang.

Hebatnya, konsep perputaran uang di Karangsewu tetap berjalan selaras dengan denyut nadi konservasi. Melalui sistem zonasi, ekosistem asli kawasan TNBB dipastikan tidak terganggu.

Guna memperkuat kapasitas warga, PT PLN Indonesia Power PLTG Gilimanuk turut turun tangan lewat program community development dan CSR PLN Peduli. Bantuan yang dikucurkan berupa bimbingan teknis, pelatihan kelembagaan, pembangunan sarana fisik, hingga aksi nyata hijau seperti penanaman mangrove.

Dampak positif ini diakui langsung oleh Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma. Menurutnya, legalitas pengelolaan ini menjadi penyelamat ekonomi warga yang sebelumnya terseok-seok.

"Dulu sebelum ada izin pengelolaan, UMKM di Karangsewu sangat kesulitan mencari penghasilan. Tetapi sekarang kondisinya sangat berbeda. Hampir setiap hari ramai pengunjung dan penghasilan masyarakat meningkat," ungkap Tony.

Keberhasilan Karangsewu menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan tidak selalu butuh modal raksasa dari luar, melainkan kepercayaan penuh pada tangan dingin masyarakat setempat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....