Ubud Food Festival 2026 Angkat Peran Petani dan Nelayan dalam Ekosistem Kuliner
- 14 Mei 2026 05:35 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Gianyar - Ubud Food Festival 2026 kembali menghadirkan deretan program spesial bertaraf internasional melalui rangkaian Special Events dan Chef’s Table yang akan digelar pada 28–31 Mei 2026 di Ubud, Gianyar. Memasuki tahun ke-11 penyelenggaraan, festival kuliner terbesar di Indonesia ini mengusung tema Farmers: Guardians of Land and Sea dengan menghadirkan kolaborasi para chef ternama Asia Tenggara hingga Amerika Latin.
Pendiri dan Direktur Ubud Food Festival, Janet DeNeefe mengatakan program tahun ini menghadirkan talenta internasional yang sayang untuk dilewatkan, termasuk kolaborasi chef terbaik Indonesia dengan chef ternama dari berbagai negara Asia.
“Program tahun ini benar-benar istimewa, dengan deretan talenta internasional yang sayang untuk dilewatkan. Kolaborasi spesial yang mempertemukan chef terbaik Indonesia dengan para chef ternama dari berbagai negara di Asia menjadi salah satu hal paling menarik di Ubud Food Festival tahun ini,” ujar Janet DeNeefe.
Salah satu sorotan utama festival tahun ini adalah kehadiran chef pastry asal Australia, Kate Reid, pendiri Lune Croissanterie sekaligus mantan ahli aerodinamika Formula 1. Ia dijadwalkan berbagi kisah perjalanan kariernya dalam sesi diskusi santai di Indus Restaurant serta menjadi co-juri dalam penobatan “Best Croissant in Bali 2026”.
Kolaborasi eksklusif juga akan hadir di Four Seasons Resort Bali at Sayan melalui makan malam spesial yang mempertemukan Chef Frank Camorra dari MoVida Melbourne dan Chef Andrés Becerra dari Santanera Canggu. Keduanya akan menyajikan enam hidangan terinspirasi dari api, garam, serta semangat kuliner Spanyol dan Amerika Latin.
Sementara itu, Chef Ben Devlin dari Pipit Byron Bay akan berkolaborasi dengan Chef Syrco Bakker di Syrco BASÈ menghadirkan menu yang terinspirasi dari kekayaan terroir Bali dan cita rasa khas Australia dengan menonjolkan bahan lokal serta kreativitas dalam setiap sajian.
Dari Indonesia, Chef Jovan Koraag dari Mata Karanjang Jakarta akan membawa cita rasa khas Sulawesi Utara melalui Long Table Lunch di Casa Luna. Sajian yang dihadirkan antara lain daging babi dalam bambu, telur ikan berbumbu woku, hingga klappertart sebagai penutup.
Chef Ragil Imam Wibowo dari Nusa Gastronomy bersama Executive Chef T.J. juga akan menghadirkan pengalaman makan bertema pisang di DI SINI DI SANA by Rachman & Sons dengan mengangkat resep warisan Nusantara, teknik memasak api, fermentasi, dan rempah-rempah dalam suasana ruang makan bergaya Jawa klasik.
Tak hanya itu, kolaborasi tiga chef yakni Chef Kieran Morland dari Luma Bali, Chef Fernando Sindu dari Salira Union Group, dan chef sekaligus figur publik kuliner Indonesia Renatta Moeloek akan digelar di Samsara Ubud dengan menghadirkan kreasi koktail spesial dan eksplorasi bahan lokal.
Program Chef’s Table tahun ini juga menghadirkan sejumlah nama besar dunia kuliner seperti Chef Prin Polsuk dan Chef Joe Napol dari Thailand, Chef Abel Ortiz asal Peru, hingga ikon kuliner Malaysia, Chef Wan, yang akan menampilkan sajian Nyonya Laksa berbasis resep warisan Peranakan.
Selain Special Events dan Chef’s Table, festival juga menghadirkan Masterclass favorit pengunjung. Salah satu yang menjadi sorotan adalah sesi bersama Chef Victorien Bayet dan Kadek Dwi Kurniawan di Kokokan Restaurant at Kappa Senses yang akan mendemonstrasikan hidangan terinspirasi dari petani dan nelayan Bali.
“Chef’s Tables dan Masterclass tahun ini kembali menghadirkan para chef terbaik Indonesia serta bintang kuliner dari berbagai negara kepada audiens yang lebih luas, dan itulah inti dari festival kami. Program-program ini bertujuan untuk membangkitkan rasa ingin tahu, memperdalam apresiasi terhadap tradisi kuliner dunia, dan meninggalkan rasa penasaran yang terus terbawa setelahnya,” tambah Janet DeNeefe.
Pada penyelenggaraan tahun lalu, Ubud Food Festival mencatat lebih dari 18 ribu pengunjung dan melibatkan sekitar 160 pelaku industri kuliner dari berbagai daerah di Indonesia.
Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati, I Ketut Suardana, menyebut Ubud dipilih sebagai lokasi festival karena memiliki sejarah panjang sebagai pusat seni, budaya, dan pariwisata dunia sejak era 1930-an. Ia menilai makanan tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga mengandung nilai spiritualitas dan penghormatan terhadap alam.
“Makanan bukan sekadar soal rasa, tetapi juga memiliki nilai spiritualitas dan menjadi bentuk penghormatan kepada alam. Kuliner lahir dari budaya dan kekayaan Nusantara yang harus terus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat,” ujar I Ketut Suardana dalam konferensi pers di Denpasar Rabu, 13 Mei 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....