Koster Soroti Penurunan Penduduk Asli Bali, Dorong Insentif Anak Nyoman dan Ketut
- 30 Apr 2026 18:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti menurunnya laju pertumbuhan penduduk asli Bali yang dinilai berdampak pada berkurangnya keberlanjutan tradisi budaya, termasuk penamaan anak ketiga dan keempat dalam masyarakat Bali. Ia menyebut Bali sebagai wilayah kecil dengan luas sekitar 5.590 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 4,4 juta jiwa.
Menurutnya, penurunan pertumbuhan penduduk asli Bali salah satunya dipengaruhi keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) dua anak yang digencarkan pemerintah pada masa sebelumnya. “Pertumbuhan penduduk asli Bali saat ini menurun, ini karena dulu kita bangga akan pencapaian program KB dua anak. Namun di balik itu, nama anak ketiga dan keempat yakni Nyoman dan Ketut semakin sedikit. Padahal kita di Bali harus melestarikan itu untuk menjaga budaya kita,” ujar Koster dalam gala Dinner Asia Small Business Federation (ASBF) Indonesia dan ASBF International Conference 2026 di Prama Hotel Sanur, Denpasar pada Kamis 23 April 2026.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali saat ini tengah menggencarkan program insentif bagi anak ketiga dan keempat, khususnya yang diberi nama Nyoman/Komang dan Ketut. Kebijakan ini merupakan upaya menjaga keberlanjutan demografi lokal sekaligus melestarikan tradisi penamaan dalam budaya Bali. Koster menegaskan bahwa pariwisata Bali tidak dapat dipisahkan dari budaya yang menjadi fondasi utama daya tarik Pulau Dewata di mata dunia.
“Pariwisata Bali itu berakar pada budaya. Karena itu kita harus merawat dan menjaga budaya dengan baik, sebab budaya menjadi penggerak utama berbagai aspek di Bali,” katanya.
Ia menambahkan, sektor pariwisata masih menjadi penopang utama perekonomian Bali. Selama sektor ini terjaga, menurutnya, ekonomi masyarakat akan tetap stabil. Namun demikian, penguatan sektor UMKM juga dinilai penting sebagai penopang ekonomi alternatif.
Koster memaparkan sejumlah indikator ekonomi Bali yang dinilai cukup baik, di antaranya pertumbuhan ekonomi sebesar 5,82 persen, tingkat kemiskinan 3,42 persen, tingkat pengangguran 1,45 persen, angka harapan hidup 75,44 tahun, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 79,5.
| Baca juga: Bali Menjadi Contoh dalam Penanganan Sampah |
“Ini harus dijaga dengan baik agar pembangunan di Bali tetap kondusif. Ke depan harus dikelola lebih baik dan kita harus kerja keras,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan arah kebijakan ekonomi Bali yang mengusung konsep transformasi ekonomi berbasis filosofi Tri Hita Karana dengan prinsip pembangunan hijau, berkelanjutan, dan berakar pada budaya lokal.
Transformasi tersebut diwujudkan melalui penguatan enam sektor utama, yakni pertanian, kelautan dan perikanan, industri berbasis budaya Bali, Industri Kecil Menengah (IKM), UMKM dan koperasi, pariwisata, serta ekonomi kreatif dan digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....