Perkuat Identitas Budaya dan Inovasi, Kunci Tingkatkan Daya Tarik Produk UMKM Bali

  • 25 Apr 2026 06:17 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Daya tarik produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali dinilai sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam menciptakan nilai atau customer value di mata konsumen. Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Doktor Putu Laksmita Dewi Rahmayanti kepada RRI.CO.ID, Jum’at, 24 April 2026 menjelaskan bahwa sebuah produk akan dianggap menarik apabila mampu memberikan manfaat yang lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayar oleh konsumen.

“Produk UMKM diharapkan memiliki nilai yang tinggi di mata pelanggan agar mampu bersaing di tengah pasar yang semakin kompetitif,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembentukan nilai tersebut tidak terlepas dari strategi pemasaran yang tepat, mulai dari segmentasi, penentuan target pasar, hingga penentuan posisi produk. Selain itu, pelaku UMKM juga perlu mengoptimalkan strategi bauran pemasaran atau 4P, yaitu produk, harga, tempat, dan promosi.

Menurutnya, tidak ada satu strategi yang bisa digeneralisasi sebagai yang paling efektif karena karakteristik setiap sektor UMKM berbeda, mulai dari kuliner, fahion, hingga kerajinan. Namun, ia menekankan pentingnya menciptakan keunggulan bersaing melalui inovasi.

“Usaha yang mampu berinovasi akan lebih bertahan dalam persaingan. Inovasi tidak harus besar, bisa melalui variasi produk, kemasan yang lebih menarik, atau cara pemasaran yang kreatif,” ungkapnya.

Selain inovasi, pemanfaatan digital marketing juga dinilai menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan daya tarik produk. Melalui platform digital seperti media sosial, pelaku UMKM tidak hanya berjualan, tetapi juga membangun interaksi dan keterikatan dengan konsumen.

“Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga ingin terhubung dengan merek. Karena itu, penting bagi UMKM untuk aktif membuat konten, membalas interaksi, dan membangun hubungan dengan pelanggan,” jelasnya.

Dalam menjaga keberlanjutan usaha, ia menekankan pentingnya inovasi secara konsisten agar produk tidak mengalami penurunan pada siklus hidupnya. Pelaku UMKM dituntut mampu mengikuti tren pasar, terutama pada sektor yang cepat berubah seperti fesyen dan kuliner, tanpa meninggalkan identitas produk.

Sebagai contoh, ia menyebut perkembangan produk kuliner sederhana seperti pisang goreng yang kini hadir dengan berbagai varian rasa dan topping sebagai bentuk adaptasi terhadap tren pasar. Inovasi semacam ini dinilai mampu meningkatkan daya saing sekaligus menjaga relevansi produk di tengah perubahan selera konsumen.

Di sisi lain, ia juga menyoroti kesalahan umum yang sering dilakukan pelaku UMKM, yakni terlalu fokus pada persaingan harga. Menurutnya, strategi tersebut berpotensi menurunkan kualitas produk dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.

“Jika hanya bersaing pada harga, maka kualitas bisa tergerus. Padahal yang dibutuhkan adalah nilai yang kuat di mata konsumen, bukan sekadar harga murah,” tegasnya.

Untuk itu, ia merekomendasikan agar pelaku UMKM di Bali mampu memanfaatkan kekuatan budaya lokal sebagai nilai tambah produk. Unsur budaya dan seni dinilai menjadi keunggulan khas yang dapat meningkatkan daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional.

“Produk yang memiliki sentuhan budaya lokal akan memiliki nilai lebih dan menjadi identitas yang kuat di mata konsumen,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....