Mengenal Tradisi Megibung di Masyarakat Bali

  • 09 Feb 2026 13:33 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Masyarakat Bali masih menjaga sebuah tradisi sederhana namun sarat makna, yaitu megibung. Tradisi makan bersama ini bukan sekedar soal berbagi hidangan, tetapi menjadi simbol kebersamaan, kesetaraan, dan rasa persaudaraan yang kuat.

Melansir dari balitimbungan.id, Tradisi Megibung merupakan warisan dari Raja Karangasem bernama I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem pada tahun 1614 caka atau 1692 masehi. Tradisi ini bermula dari ekspedisi Karangasem dalam menaklukan raja-raja Lombok. 

Saat peperangan, raja Karangasem memerintahkan prajuritnya untuk makan bersama dengan posisi melingkar. Melansir dari tiyingtali.desa.id, Makan diletakkan di tengah-tengah mereka dan raja sendiri konon ikut makan bersama dengan prajuritnya. Sejak saat itu, megibung berkembang menjadi tradisi dan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Bali, khususnya di Karangasem. 

Proses memasak dalam tradisi megibung dilakukan bersama-sama. Nasi putih menjadi komponen utama yang dimasak dalam kuali besar. Lauk pauk dimasak dalam jumlah banyak yang biasanya terdiri dari menu masakan khas bali. 

Proses menata makanan dilanjutkan dalam gibungan dan karangan. Tiyingtali.desa.id menyebutkan gibungan adalah tampah besar yang diletakkan di tengah-tengah yang dalamnya berisi nasi putih yang menggunung. Sedangkan, lauk pauk akan ditaruh di sekeliling gibungan yang disebut karangan. 

Etika makan dalam tradisi megibung  adalah dengan duduk melingkar dengan kaki bersila dan disantap menggunakan tangan kanan. Semua orang menyantap hidangan secara bersama-sama dalam satu wadah tanpa sekat.

Tradisi megibung biasanya dilaksanakan saat ada upacara adat atau keagamaan ketika tuan rumah mengumpulkan keluarga dan kerabat. Semuanya berkumpul dan duduk sejajar di lantai tanpa melihat perbedaan status sosial. 

Tradisi megibung melambangkan rasa kebersamaan,  kesetaraan, dan keharmonisan. Rasa syukur atas nikmat hidangan juga dirasakan ketika melakukan tradisi ini. Di dalam satu lingkaran megibung, semua orang diingatkan bahwa kebersamaan adalah fondasi kehidupan bermasyarakat.

 

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....