Sejarah Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari
- 06 Feb 2026 11:45 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Setiap 21 Februari, dunia memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) sebagai momentum untuk menegaskan pentingnya pelestarian dan perlindungan bahasa. Pada 2026, peringatan ini kembali menjadi pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi pendidikan, identitas budaya, dan pembangunan berkelanjutan.
Melansir dari laman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO menekankan bahwa bahasa berperan penting dalam mentransfer pengetahuan dan menjaga keberagaman budaya dunia. Saat ini, tercatat lebih dari 8.300 bahasa digunakan oleh masyarakat global, namun sebagian di antaranya terancam punah seiring perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Hari Bahasa Ibu Internasional berakar dari peristiwa bersejarah di Bangladesh. Pada 21 Februari 1952, sejumlah mahasiswa di Dhaka gugur saat menggelar aksi damai menuntut pengakuan bahasa Bengali sebagai bahasa nasional. Saat itu, pemerintah Pakistan Timur menetapkan bahasa Urdu sebagai satu-satunya bahasa resmi, meskipun mayoritas penduduk bertutur dalam bahasa Bengali.
Aksi yang semula berlangsung damai tersebut berubah menjadi tragedi setelah aparat keamanan melepaskan tembakan. Para mahasiswa yang tewas kemudian dikenang sebagai martir bahasa karena pengorbanan mereka demi pengakuan hak berbahasa. Perjuangan itu membuahkan hasil ketika pada 1956, bahasa Bengali diakui sebagai salah satu bahasa resmi Pakistan.
Peristiwa ini terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa Bangladesh. Setelah negara tersebut merdeka pada 1971, bahasa Bengali menjadi simbol utama identitas nasional. Gagasan untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional kemudian diusulkan oleh Rafiqul Islam, warga Bangladesh yang tinggal di Kanada, melalui surat kepada Sekretaris Jenderal PBB pada 1988.
Usulan tersebut akhirnya disetujui dalam Sidang Konferensi Umum UNESCO pada 17 November 1999, yang menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional dan diperingati setiap tahun di seluruh dunia.
Pada 2026, peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional kembali digelar secara global dengan berbagai kegiatan yang menyoroti pentingnya keberagaman bahasa dan pendidikan multibahasa. UNESCO mendorong negara-negara anggota untuk memperkuat kebijakan bahasa yang inklusif guna mendukung terciptanya masyarakat yang adil dan berkelanjutan.
Di Indonesia, peringatan HBII 2026 juga diisi dengan beragam kegiatan oleh pemerintah pusat dan daerah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama pemangku kepentingan pendidikan mengangkat isu pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan.
Berbagai agenda seperti seminar, lokakarya, pameran budaya, kampanye digital, pemutaran film berbahasa daerah, hingga diskusi publik digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa ibu. Peringatan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk tetap menggunakan, mempelajari, dan mewariskan bahasa daerah di tengah arus globalisasi.
Melalui Hari Bahasa Ibu Internasional 2026, masyarakat dunia diajak untuk terus menjaga bahasa sebagai warisan tak ternilai, sekaligus sebagai jembatan menuju pendidikan yang inklusif dan masa depan yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....