Yadnya dengan Kesadaran, Melampaui Ritual Menuju Kedamaian Batin
- 06 Feb 2026 07:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Praktik yadnya dalam kehidupan umat Hindu sejatinya bukan sekadar rangkaian ritual dan kewajiban adat, melainkan jalan spiritual untuk menata batin dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, I Gusti Ayu Twin Jayanti, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Jumat, 6 Februari 2026.
Dalam siaran yang berlangsung hangat dan reflektif, Twin Jayanti mengajak pendengar untuk memaknai kembali yadnya dengan kesadaran penuh, melampaui sekadar pelaksanaan ritual lahiriah. Ia menekankan bahwa di tengah padatnya ritme kehidupan modern dan bertumpuknya agenda upacara keagamaan, umat Hindu kerap menjalankan yadnya dalam kondisi fisik dan batin yang lelah.
“Banyak dari kita tetap hadir, ngayah, dan tersenyum, tetapi di dalam hati sebenarnya ada kelelahan yang tidak terucap. Ini bukan tanda kurangnya sraddha dan bhakti, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran kita membutuhkan perhatian,” ujarnya.
Menurut Twin Jayanti, tekanan emosional yang berlangsung lama dapat menyebabkan seseorang menjalankan ritual hanya secara fisik, sementara batinnya tidak sepenuhnya hadir. Kondisi ini diperparah oleh tekanan sosial dan rasa takut dianggap kurang berpartisipasi atau kurang berbakti jika tidak selalu terlibat dalam setiap kegiatan keagamaan.
Ia menjelaskan bahwa ajaran Hindu sejak awal tidak menempatkan yadnya sebagai ajang pamer kemampuan, perlombaan, atau pemenuhan ekspektasi sosial. Yadnya adalah hubungan personal antara manusia dengan Tuhan yang dilandasi ketulusan dan kesadaran.
Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan ajaran Bhagavadgita Adhyaya IX Sloka 26 yang menegaskan bahwa Tuhan menerima persembahan sederhana, daun, bunga, buah, atau air, apabila dihaturkan dengan bhakti yang tulus. “Yang utama bukanlah kemewahan sarana, melainkan kejujuran dan kemurnian hati,” jelasnya.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut juga menyoroti pentingnya mengenali kapasitas diri dalam menjalani kehidupan beragama. Menurutnya, memaksakan diri melampaui batas justru berisiko menimbulkan kelelahan mental dan menjauhkan umat dari esensi spiritual yadnya itu sendiri.
Bagi generasi muda, tekanan tersebut kerap terasa lebih kuat. Di satu sisi, ada keinginan untuk menghormati tradisi, namun di sisi lain terdapat kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan yang penuh empati, pendampingan, dan ruang dialog agar generasi muda tidak memandang agama sebagai beban, melainkan sebagai ruang untuk bertumbuh.
“Ketika yadnya dijalani dengan kesadaran dan ketulusan, ia tidak akan menjauhkan kita dari ketenangan, tetapi justru mendekatkan kita pada kedamaian batin,” tutupnya.
Melalui siaran ini, Twin Jayanti berharap umat Hindu dapat menjadikan yadnya sebagai sumber kekuatan spiritual. Ditegaskan bahwa yadnya bukan tekanan emosional, sehingga kehidupan beragama tetap sehat, bermakna, dan berkelanjutan di tengah dinamika zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....