Waspada Kemunculan Air Lindi Pada Tumpukan Sampah!

  • 05 Feb 2026 10:12 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Pernahkah Anda melintasi tempat pembuangan sampah dan melihat cairan hitam pekat yang merembes di sekitarnya? Dalam dunia teknik lingkungan, cairan misterius ini disebut air lindi (landfill leachate).

Air lindi, cairan limbah ini dihasilkan dari proses air hujan yang menggenang pada timbunan sampah padat. Air rembesan ini merupakan hasil dari dekomposisi sampah yang terakumulasi dengan sejumlah zat kimia beracun, bakteri patogen, senyawa organik, dan senyawa anorganik.

Limbah ini bergerak atau mengalir dari tempat pengumpulan sampah atau open dumping. Air lindi biasanya berwarna hitam atau kuning saat pertama kali ditemui, dan biasanya memiliki bau asam yang kuat. 

Jurnal terbaru dari Chunying Teng dkk. (2021) mengingatkan kita bahwa air lindi adalah salah satu tantangan lingkungan paling kompleks yang kita hadapi saat ini. Ketika air hujan turun dan membasahi tumpukan sampah tersebut, air akan meresap ke lapisan paling bawah sembari melarutkan berbagai zat kimia. 

Menurut jurnal tersebut, air lindi mengandung konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) yang sangat tinggi, amonia, garam-garaman, hingga logam berat. Komposisinya pun terus berubah seiring bertambahnya usia tempat sampah tersebut. 

Sehingga membuat limbah ini menjadi jenis cairan yang sangat sulit diprediksi. Mengapa harus mendapatkan perhatian?

Air lindi bukan sekadar air kotor biasa. Limbah ini tentu merupakan ancaman bagi ekosistem kehidupan. Jika tidak dikelola dengan benar, lindi dapat merembes ke dalam tanah dan mencemari air tanah yang kita konsumsi sehari-hari.

Hal ini patut diwaspadai oleh masyarakat, terutama yang berdomisilo disekitar tempat pemrosesan akhir (TPA). Menyadur laman Waste4change, air lindi yang berpotensi muncul di sekitar TPA, dapat menimbulkan berbagai penyakit. Kandungan logam berat pada air lindi dapat menyebabkan tremor, kejang, kehilangan memori, penurunan trombosit, anemia, hingga gagal ginjal akut. 

Penyakit lainnya yang sering terjadi ialah iritasi kulit, dermatitis, diare, hingga penyakit gusi akibat kandungan nikel pada air lindi. Chunying Teng dkk dalam jurnalnya juga menyatakan materi organik terlarut dalam lindi dapat mematikan aktivitas mikroba baik di tanah, menyebabkan kerusakan pada peralatan pengolahan air, dan mengubah perilaku logam berat menjadi lebih beracun bagi lingkungan (bioavailabilitas). 

Sifatnya yang ecotoxicity berarti ia berpotensi meracuni organisme hidup, mulai dari tanaman hingga manusia yang berada dalam rantai makanan yang tercemar.

Apa yang dapat dilakukan masyarakat?

Dimasa mendatang, pengolahan air lindi menjadi kebutuhan besar. Masa depan pengelolaan air lindi terletak pada integrasi teknologi yang lebih cerdas dan pemahaman yang lebih dalam mengenai karakteristik kimiawinya. Peneliti menekankan, setiap lokasi sampah memiliki "sidik jari" lindi yang berbeda. Sehingga tidak ada satu metode yang bisa diaplikasikan untuk semua tempat.

Upaya mengurangi air lindi bukan hanya tugas pengelola sampah, tapi dimulai dari kita dengan mengurangi sampah organik yang masuk ke TPA. Memulai langkah pemilahan sampah organik dnegan anorganik menjadi cara sederhana di tingkat rumah tangga. Hal ini dapat menekan potensi terbentuknya "cairan beracun" sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....