Tri Parartha Jadi Landasan Hidup Harmonis dalam Keberagaman

  • 27 Jan 2026 15:13 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Ajaran Tri Parartha dinilai relevan sebagai dasar membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang beragam. Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ni Wayan Seri Nuryanti, dalam program Surya Puja yang disiarkan melalui Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 27 Januari 2026.

Dalam pemaparannya, Nuryanti menjelaskan bahw Tri Parartha merupakan ajaran Hindu yang terdiri atas tiga unsur utama, yakni Asih, Punia, dan Bakti. Ketiganya menjadi jalan untuk mewujudkan kesempurnaan hidup, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, serta kedamaian umat manusia.

“Asih berarti cinta kasih. Dengan menumbuhkan kasih sayang, manusia mampu mencintai diri sendiri, sesama, dan alam semesta, meskipun berada dalam perbedaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, cinta kasih mendorong manusia untuk saling memaafkan, menolong tanpa pamrih, serta menjaga keharmonisan dengan lingkungan. Bentuk cinta kasih kepada alam, antara lain dengan menggunakan sumber daya alam secara bijak, mengurangi penggunaan plastik, menjaga kelestarian lingkungan, serta tidak mengeksploitasi alam demi kepentingan pribadi. Konsep ini sejalan dengan ajaran Ahimsa, yakni tidak menyakiti makhluk hidup dan alam.

Selain itu, nilai Asih juga tercermin dalam ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik dan suci. Pikiran yang benar, perkataan yang jujur dan sopan, serta tindakan yang penuh kebajikan diyakini mampu menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis.

Ajaran cinta kasih juga diperkuat melalui konsep Tat Twam Asi, yang bermakna “aku adalah engkau dan engkau adalah aku”. Dengan memahami konsep ini, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, sehingga tercipta rasa persaudaraan universal atau Vasudhaiva Kutumbakam.

Unsur kedua dalam Tri Parartha adalah Punia, yang berarti darmawan, tulus, dan ikhlas. Punia diwujudkan melalui sikap saling menolong, berbagi, serta pelayanan kepada sesama atau ngayah. “Punia merupakan kewajiban moral dan spiritual yang dilakukan tanpa mengharapkan imbalan,” jelas Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gianyar tersebut.

Sementara itu, unsur ketiga adalah Bakti, yang berarti hormat dan sujud. Bakti ditujukan kepada Tuhan, orang tua, guru, dan pemerintah, sebagaimana diajarkan dalam konsep Catur Guru. Melalui bakti kepada Tuhan, umat memperkuat hubungan spiritual, sedangkan bakti kepada orang tua, guru, dan pemerintah membentuk karakter mulia, tanggung jawab, serta ketertiban sosial.

Seri Nuryanti menekankan bahwa penerapan Asih, Punya, dan Bakti secara seimbang dapat menumbuhkan sikap saling menghargai dalam keberagaman agama, suku, budaya, dan pandangan hidup.

“Perbedaan adalah anugerah yang memperindah kehidupan, seperti pelangi yang tidak indah bila hanya memiliki satu warna,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....