Anak Tak Butuh Gadget, Tapi Perhatian
- 26 Jan 2026 12:03 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Penggunaan gadget berlebihan pada anak dinilai berpotensi mengganggu perkembangan emosional dan sosial jika tidak diimbangi dengan perhatian langsung dari orang tua. Psikolog dari Himpsi Bali , I Kadek Rawayana, S.Psi.,M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada pergeseran peran orang tua dalam pengasuhan.
Berdasarkan data Common Sense Media (2024), anak usia 8–12 tahun menghabiskan rata-rata 5 jam 33 menit per hari di depan layar di luar waktu belajar. Angka ini memicu kekhawatiran akan berkurangnya interaksi sosial, empati, dan kemampuan imajinatif anak.
“Anak bukan kecanduan gadget, tetapi kecanduan perhatian yang sering kali hanya datang melalui gadget,” ujar Kadek Rawa dalam dialog Kita Indonesia Pro 1 RRI Denpasar.
Menurut Kadek Rawa, banyak orang tua tanpa sadar menjadikan gadget sebagai “penenang instan” ketika anak rewel atau bosan. Pola ini, jika berlangsung terus-menerus, membentuk asosiasi bahwa kenyamanan emosional berasal dari layar, bukan dari hubungan dengan manusia.
“Ketika gadget menggantikan kehadiran orang tua, anak kehilangan kesempatan belajar membaca emosi, bernegosiasi, dan membangun empati,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa interaksi sederhana seperti bermain bersama, bercerita sebelum tidur, atau berdiskusi ringan justru memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental anak. Kadek Rawa juga menekankan pentingnya aturan penggunaan gadget yang disusun bersama anak. Pelibatan anak dalam membuat kesepakatan dinilai dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kontrol diri.
“Anak yang memahami alasan di balik aturan akan lebih patuh dibanding anak yang hanya dilarang. Ini melatih kemampuan regulasi diri sejak dini,” katanya.
Rasa bosan disebut sebagai pemicu utama anak mencari hiburan digital. Karena itu, orang tua disarankan mengisi waktu luang anak dengan aktivitas yang merangsang rasa ingin tahu, seperti berkebun, memasak, atau eksperimen sederhana.
“Kegiatan nyata mengajarkan anak tentang proses dan kesabaran, sesuatu yang tidak didapat dari stimulasi instan layar,” ujarnya.
Penggunaan gadget sebagai hadiah atau hukuman juga dinilai keliru. Praktik tersebut membuat gadget memiliki nilai emosional berlebihan di mata anak.
“Jika gadget dijadikan simbol cinta atau penghargaan, anak akan mengejar gadget, bukan proses belajar atau perilaku baik itu sendiri,” jelasnya.
Sebagai alternatif, ia menyarankan bentuk apresiasi berbasis pengalaman sosial, seperti piknik keluarga atau aktivitas bersama.
Keteladanan orang tua menjadi faktor kunci dalam membentuk kebiasaan digital anak. Anak, menurut Kadek Rawa, lebih banyak meniru perilaku daripada mendengarkan nasihat.
“Tidak efektif melarang anak bermain ponsel jika orang tua sendiri terus menatap layar, termasuk saat makan bersama,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, keluarga disarankan memiliki waktu bebas layar setiap hari, misalnya satu jam sebelum tidur. Ruang ini menjadi momen membangun koneksi emosional tanpa gangguan digital.
“Anak yang merasakan kehangatan relasi akan lebih memilih dunia nyata tanpa perlu dipaksa,” katanya.
Kadek Rawa menegaskan bahwa gadget dapat menjadi alat belajar yang bermanfaat jika digunakan secara sadar dan terarah, bukan sebagai pengganti relasi. Pendidikan anak tidak terjadi di layar, tetapi dalam hubungan yang hidup antara orang tua dan anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....