Budayawan: PKB Jadi Ruang Pelestarian Seni dan Diplomasi Budaya Bali
- 17 Jun 2026 10:27 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Pesta Kesenian Bali (PKB) dinilai tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali melalui pembinaan yang berlangsung hingga ke tingkat desa. Selama hampir lima dekade penyelenggaraannya, PKB telah menjadi wadah untuk menggali sekaligus mengembangkan potensi seni yang tumbuh di masyarakat.
Budayawan Dr. I Gusti Made Ngurah, M.Si kepada RRI.CO.ID, Jumat, 12 Juni 2026 mengatakan masyarakat Bali maupun masyarakat nasional pada umumnya telah mengenal penyelenggaraan PKB yang kini memasuki pelaksanaan ke-48. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Masyarakat Bali terutama, bahkan juga masyarakat nasional sudah paham sekali tentang pelaksanaan PKB ini karena sudah berlangsung sampai 48 kali. Cuman karena kita memang selalu ada penggantian generasi, pembinaan itu sudah terus dilaksanakan di setiap desa setiap tahun secara tetap,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak awal PKB dirancang sebagai sarana untuk menggali dan mengembangkan seni yang tumbuh dari kelompok-kelompok masyarakat atau sekaa. Kelompok tersebut terbentuk secara alami karena adanya kesamaan minat terhadap seni tari, seni tabuh, maupun bentuk kesenian lainnya.
“Ide awalnya memang PKB itu untuk menggali serta mengembangkan seni dari sekaa. Mereka punya hobi, lalu mereka berkumpul, membikin sekaa, membentuk seni, seni suara, seni gamelan, seni tari. Kemudian sekaa-sekaa itu diberikan perhatian terus oleh pemerintah untuk selalu dibina,” katanya.
Menurutnya, sebelum penyelenggaraan PKB, pemerintah melalui tim kurator dan tim pembina terlebih dahulu melakukan pembinaan di berbagai desa agar pelestarian dan pengembangan seni tetap berjalan. Hasil pembinaan tersebut kemudian ditampilkan dalam ajang PKB.
“Sebelum pesta kesenian itu juga ada tim-tim kurator, ada tim pembina ke daerah-daerah, ke desa-desa untuk memang tetap bisa melestarikan serta mengembangkan seni budaya itu. Hasil pembinaannya kemudian ditampilkan pada pesta kesenian,” jelasnya.
Selain menjaga kelestarian budaya, penyelenggaraan PKB juga dinilai memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Ia mengatakan tumbuhnya rasa seni sejak usia dini menjadi salah satu keunggulan masyarakat Bali yang kemudian berkembang menjadi daya tarik wisata.
“Dampaknya tetap ada dan mesti ada, terutama dampak positifnya. Positifnya itu tumbuh rasa seni mulai dari anak-anak. Ini sebenarnya suatu keunggulan bagi masyarakat Bali yang memang punya hobi dan kesenangan di dalam mengembangkan rasa seni budaya, dan menjadi atraksi pariwisata,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kehidupan seni di Bali tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan PKB karena banyak kesenian yang menjadi bagian dari pelaksanaan upacara keagamaan. Seni sakral tersebut terus hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari filosofi budaya Bali.
“Ada bagian-bagian seni budaya yang ditampilkan terkait dengan upacara-upacara agama, yang di Bali itu tidak putus-putusnya. Selalu disertai persembahan seni di dalam pelaksanaan agama,” katanya.
Di sisi lain, keberadaan sekolah seni dan perguruan tinggi seni juga ikut memperkuat pengembangan budaya melalui pendekatan akademis. Menurutnya, kolaborasi antara nilai-nilai seni lokal dengan unsur seni dari luar mampu melahirkan kreativitas baru yang tetap berakar pada budaya Bali.
“Ada sekolah-sekolah seni, seperti Institut Seni itu sendiri. Itu membina seni secara akademis, ada teori-teorinya, ada konsep-konsepnya, kemudian dipraktikkan. Bahkan ada inisiatif menyerap beberapa nilai seni luar lalu dikolaborasikan dengan seni yang tumbuh di Bali,” ujarnya.
Dalam mendukung kesuksesan PKB, ia menilai masyarakat memiliki peran besar melalui pembentukan kelompok seni di desa adat, penyelenggaraan latihan rutin, hingga dukungan orang tua kepada anak-anak untuk belajar seni sejak dini. “Anak-anak di desa-desa itu sangat antusias untuk ikut latihan-latihan, apakah seni gamelan ataupun seni tari, dan orang-orang tua mereka memberi dorongan. Itu peran masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, pemerintah dinilai hadir melalui berbagai bentuk fasilitasi, mulai dari pembentukan panitia penyelenggara, kurator, pengawas, hingga dukungan dari Dinas Kebudayaan serta pemerintah daerah di berbagai tingkatan. “Pemerintah dalam hal ini punya Dinas Kebudayaan atas nama pemerintah daerah. Di Dinas Kebudayaan inilah semuanya diatur, sampai ada pembentukan panitia pelaksana, ada kurator, ada pengawas, dan sebagainya. Itu difasilitasi jelas oleh Dinas Kebudayaan,” katanya.
Dr. I Gusti Made Ngurah berharap seni budaya Bali terus dipandang sebagai sarana diplomasi yang efektif untuk memperkenalkan identitas Bali kepada dunia. Menurutnya, diplomasi budaya memiliki daya tarik yang kuat dalam mendukung perkembangan pariwisata Bali.
“Bagi saya, seni budaya itu sebenarnya merupakan salah satu jalan diplomasi. Diplomasi dengan seni budaya akan jauh lebih menarik daripada diplomasi politik. Maka kita harapkan semua komponen mencintai seni itu sendiri, turut melestarikan, turut mengembangkan, dan kalau memang berkaitan dengan atraksi pariwisata, silakan dikembangkan dengan tatanan yang sesuai dengan harapan pariwisata,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....