Wabah LSD Jembrana: Sapi Batal Dijual, Harga Anjlok

  • 25 Jan 2026 19:08 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jembrana - Virus Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol kian mencekik ekonomi para peternak sapi di Kabupaten Jembrana. Tak hanya mengancam kesehatan ternak, wabah ini memicu pembatalan transaksi dan penutupan akses pasar.

I Made Suarnawa, peternak asal Desa Baluk, Kecamatan Negara, menuturkan kisah pilunya. Ia mengaku mengalami dampak signifikan setelah sejumlah kesepakatan jual beli dibatalkan sepihak oleh pembeli.

"Kemarin ada tiga ekor yang sudah deal, dua betina dan satu jantan, tapi batal. Alasannya, sapi dari Jembrana dilarang masuk ke Pasar Beringkit, Badung," keluh Made, Minggu (25/1/2026).

Kondisi ini membuat stok sapi menumpuk di kandang tanpa kepastian pasar, yang secara otomatis menjatuhkan harga jual di tingkat peternak. Menghadapi situasi sulit ini, kelompok ternak Simantri yang mengelola sekitar 40 ekor sapi (34 betina dan 6 jantan) mulai memperketat langkah preventif.

Karena virus LSD menyebar melalui vektor seperti lalat dan nyamuk, kebersihan sanitasi menjadi harga mati. "Kebersihan kandang kami laksanakan pagi dan sore. Untuk spraying (penyemprotan disinfektan/anti-serangga) rutin dilakukan seminggu sekali," ujar Made.

Langkah mandiri ini diambil guna memastikan ternak tetap sehat di tengah keterbatasan akses penjualan keluar daerah yang masih diperketat. Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Peringan) Jembrana, I Gusti Putu Ngurah Sugiarta, mengatakan, data terbaru, terdapat tambahan 22 kasus suspek yang tengah diinvestigasi, di Kecamatan Jembrana dan Mendoyo.

Sementara untuk wilayah Kecamatan Pekutatan saat ini dilaporkan masih nihil atau aman dari indikasi LSD. "Fokus pengambilan sampel rencananya akan dipusatkan di Kecamatan Mendoyo dan Kecamatan Jembrana. Sampel tersebut segera dikirim ke BBVet Denpasar untuk memastikan status penularannya," ujar Sugiarta, Jumat (23/1/2026).

Langkah ini diambil guna memverifikasi apakah gejala klinis yang muncul merupakan benar LSD atau penyakit kulit lain seperti demodekosis. Meski status resminya masih menunggu hasil laboratorium, tim Medik Veteriner (Medikvet) telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan langkah mitigasi darurat.

Sebaran kasus LSD di Jembrana (Data per Januari 2026) kasus positif masih tertahan di angka 28 ekor. Dari jumlah tersebut, 3 ekor telah dinyatakan positif berdasarkan uji laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet), sementara 25 ekor lainnya disimpulkan positif karena menunjukkan gejala klinis yang identik di lokasi yang sama.

Jika ditambah dengan sebaran 22 kasus, jadi total ada 50 kasus suspek LSD di Jembrana. Pihak dinas mengimbau peternak di Jembrana dan Mendoyo untuk segera melaporkan jika menemukan gejala benjolan pada kulit sapi mereka.

Saat ini, petugas dari bidang Keswan-Kesmavet terus menggencarkan vaksinasi massal LSD terhadap ternak sapi di wilayah tertular.





google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....