Menyeleraskan Aspek Spiritualitas dan Ekonomi di Era Modern

  • 23 Jan 2026 08:17 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Idealnya, kehidupan beragama dan beradat berjalan dalam situasi yang nyaman tanpa beban. Aspek spiritual, pemenuhan ekonomi, dan ketaatan pada tradisi bergerak beriringan secara berkesinambungan. Namun, realitas di era modern menunjukkan adanya pergeseran yang signifikan.

Saat ini, batas-batas antara kewajiban rohani dan tuntutan profesi seolah mengabur, menciptakan sebuah kondisi bahwa salah satu aspek sering kali mendominasi yang lain. Ketidakseimbangan ini sering kali membuat nilai spiritualitas yang tulus menjadi tidak terlihat. Hal ini terjadi karena terhimpit oleh beban fisik dan finansial yang tidak lagi mampu menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakatnya.

Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar Dr. I Nyoman Arya S.Ag.,M.Pd.H,menyatakan muncul sebuah kesan di kalangan perusahaan bahwa memilih karyawan lokal menjadi tantangan tersendiri karena tingginya frekuensi libur untuk kegiatan adat. Hal ini memicu keresahan, di mana satu sisi pengusaha menuntut efisiensi kerja, sementara di sisi lain, pekerja lokal merasa terjepit dalam dilema moral.

Tanpa introspeksi diri dari semua pihak, ketegangan ini akan terus berlanjut tanpa solusi, menjadi sebuah "alarm" peringatan bagi keberlangsungan harmoni antara profesi dan tradisi.

Peran pemuka adat menjadi sangat krusial dalam mengatur ritme pelaksanaan upacara agar lebih relevan dengan tuntutan zaman. Ia mencontohkan, upacara Ngaben yang secara tradisional bisa memakan waktu hingga berhari-hari, tentu akan sangat membebani warga yang bekerja di sektor formal. Di sinilah dibutuhkan manajemen adat yang lebih profesional dan efisien.

Menurut Nyoman Arya, jika waktu pelaksanaan dapat diringkas tanpa mengurangi esensi sakralnya, maka seorang karyawan tidak perlu merasa stres karena harus memilih antara kewajiban kerja atau sanksi sosial dari lingkungan banjarnya.

Kearifan lokal sejatinya adalah tentang keadilan dan porsinya masing-masing (desa kala patra). Kita perlu mengubah paradigma "kehadiran fisik secara paksa" menjadi kontribusi yang lebih fungsional. Nyoman Arya menyampaikan, alangkah lebih adil jika mereka yang bekerja secara profesional dapat terus menjalankan tugasnya dan berkontribusi secara materi untuk pembiayaan upacara, sementara tenaga fisik dibantu oleh mereka yang memang memiliki waktu.

Dengan kesepakatan yang bijak, ekonomi rumah tangga tetap terjaga, perusahaan tetap produktif, dan kegiatan adat tetap bisa terlaksana dengan dukungan finansial yang sehat dari para pekerja tersebut.

Adaptasi modern ini juga tercermin dalam munculnya pilihan kremasi singkat sebagai solusi bagi warga yang bertugas jauh di luar desa. Kremasi awalnya dipandang sebagai peluang bagi mereka yang memiliki tugas negara atau pekerjaan di luar daerah agar tetap bisa menunaikan kewajiban tanpa harus kehilangan hak-haknya sebagai warga adat.

"Ini adalah bentuk evaluasi nyata agar spiritualitas tidak menjadi beban yang memberatkan, melainkan energi positif yang tetap bisa dijalankan di tengah mobilitas manusia modern yang sangat tinggi. Namun, di tengah segala kepraktisan yang ditawarkan oleh zaman, kita tidak boleh melupakan aspek edukasi dan pelestarian nilai", ujarnya.

Ada kekhawatiran yang muncul bahwa jika semua prosesi agama hanya dipandang dari sudut praktis atau ekonomi semata, generasi mendatang akan kehilangan pengetahuan tentang prosesi mendalam seperti pebersihan atau tahapan atiwa-tiwa. Jika generasi muda tidak pernah bersentuhan langsung dengan proses tersebut karena segalanya sudah diserahkan pada layanan instan, maka akar budaya dan filosofi spiritual kita perlahan-lahan akan tercabut dari ingatan kolektif masyarakat.

Pada pemaparan Nyoman Arya dalam acara Mutiara Pagi, Rabu (21/01/2026) di Programa 1 RRI Denpasar, ia menganggap tantangan kita hari ini adalah memberikan energi baru yang mampu memantapkan ekonomi sekaligus menunjang kesehatan spiritual dalam beragama. Keseimbangan ini hanya bisa dicapai jika kita berani melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan adat, tanpa meninggalkan esensi spiritualnya.

"Saatnya kita memastikan bahwa tradisi tetap teguh berdiri, namun dengan cara yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk hidup, bekerja, dan beribadah secara bermartabat tanpa harus merasa terbebani", pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....