Tata Krama Matirta dan Mabija saat Sembahyang Sehari-hari

  • 03 Okt 2024 15:02 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Berbicara mengenai Tirta dan Bija, terutama kita hidup sebagai Umat Hindu di Bali, tentu sudah tidak asing lagi. Tirta menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat Bali. Pengertian tirta merujuk pada air yang diambil dari sumber air lalu diupacarai, kemudian disebut sebagai tirta. Air suci ini sangat dibutuhkan dalam menjalankan kehidupan dan yajna bagi masyarakat Hindu Bali. Kata tirta sesungguhnya berasal dari bahasa sanskerta yang memiliki arti air suci. Hal tersebut disampaikan dalam Acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106, 4 MHz, oleh Ida Bagus Egi Dananjaya, seorang penyuluh Agama Hindu dari Kementrian Agama Kota Denpasar, Kamis, (3/10/2024).

Dijelaskan, dalam lontar Paniti Agama Tirta disebutkan tirta ngaran amerta, yang artinya Tirta adalah hidup. Sedangkan dalam lontar Agama Tirta, menyebutkan sebagai berikut, U nika ngaran udaka, ngaran gangga, ngaran tirta suci. Udaka dalam baasa sekerta artinya laut, fungsi laut dalam Agama Hindu adalah sebagai tempat penyucian atau tempat pelabur segala kekotoran. “Maka dari itu, ada macam-macam Tirta, yaitu, ada Tirta Wangsuh Pada, ada Tirta Pembersihan. Kita berbicara terlebih dahulu tentang Tirta Wangsuh Pada, yaitu tirta yang didapatkan dari anugra Yang Maha Kuasa. Sedangkan Tirta Pembersihan, biasanya digunakan untuk membersihkan banten, membersihkan sarana upakara, upacara, dan membersihkan diri sendiri”, kata Dananjaya.

Tirta Wangsuh Pada dan Bija atau Wija, biasanya di dapatkan setelah selesai melakukanpersemahyangan. Tirta Wangsuh Pada, biasanya di cipratkan atau dikertiskan di kepala tiga kali, diminum tiga kali, dan diraup di wajah tiga kali. Sedangkan bija, biasanya di pasang dikening, kemudian di tenggorokan dan juga di telan. Wangsuh Pada ini ke berasal dari kada Wangsuh yang artinya membasuh dan Pada artinya kaki. “Arti Wangsuh Pada ini adalah air yang digunakan untuk membasuh kaki Padma Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi Wasa’, ungkap Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut.

Umat Hindu khususnya, umat Hindu di Bali tidak pernah muluk-muluk dalam meminta kepada Tuhannya, bahkan air basuhan kaki Yang Maha Kuasa itu, sudah melebihi dari kata cukup sebagai bentuk anugrah dari Tuhan..Cara memperoleh Wangsuh Pada, bukanlah dengan benar-benar membasuh kaki Tuhan yang tidak dapat kita pikirkan. Bukanlah dalam artian kita mengambil basuhan dari pada Arca-Arca atau Pretima yang dianggap sebagai simbul Tuhan. Akan tetapi dalam artian Wangsuh Pada ini dengan cara memohonkan dan meyakini bahwa anugrah Yang Maha Kuasa berupa Tirta Wangsuh Pada itu, sudah dianugrakan melalui media air yang sudah disiapkan sebelumnya. Dan selanjutnya media air tersebut disebut sebagai Wangsuh Pada.

“Anugrah yang telah didapatkan melalui media air yang telah dihaturkan pada saat menghaturkan yadnya itulah yang disebut dengan Wangsuh Pada. Sedangkan kalau Bija adalah simbul atau lambang daripada kumara, yaitu salah satu putra dari Bhatara Siwa. Pada hakikatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih dari ke-Siwaan atau benih dari kedewataan”, ungkap Egi Dananjaya.

Mabija atau mawija itu mengandung makna menumbuhkan benih ke-Siwaan, menumbuhkan benih kedewataan agar merangsuk ke dalam diri dan pikiran kita. Bija atau Wija itu dibuat dari beras yang sudah dicuci bersih dan disarankan agar dapat menggunakan beras galih, yakni beras yang utuh atau yang tidak patah atau aksata. Tata letak menggunakan Bija sebaiknya digunakan pada Ajna Cakra atau di antara dua alis, sedikit di atasnya. Tempat ini dianggap sebagai tempat mata ketiga atau Cunda Mani. Penempatan Bija di sini diharapkan menumbuhkan dan memberi sinar kebijaksanan kepada orang yang memakainya. Kalau di India itu namanya Dilak yang ada di sekitaran alis, tempat Ajna Cakra, mata ketiga kita. Kalau di istilah medis namanya Kelenjar Pinial, disana adalah tempat mengontrol segala aktivitas rohani dan bahkan aktivitas kedunia wian dari pada tubuh kita. “Jadi kalau itu mendapatkan sinar suci atau kebijaksanan diharapkan segala tidak tanduk kita sebagai manusia baik itu dari pikira, perkataan dan perbuatan kita agar selalu selaras dengan jalan Dharma”, tambah Daanjaya.

Kemudian yang kedua, Bija atau Wija dilatakan juga pada Wisudha Cakra, di leher, atau pada kerongkongan atau tenggorokan bagian luar. Sebagai simbul penyucian, agar mendapatkan kebahagiaan, dalam artian dari perkataan, kita bisa mendapatkan kebahagiaan. Maka dari itu daram sastra agama Hindu disebutkan Wasitta nimittanta manemu laksmi, Wasitta nimittanta manemu duka, Wasitta nimittanta manemu mitra, Wasitta nimittanta pati kepangguh. Artinya, dari perkataan lah kita bisa mendapatkan teman, bisa mendapatkan kebahagiaan, bisa mendapatkan kesengsaraan dan bisa mendapatkan kematian. Maka dari itu diharapkan kita menempelkan Bija di leher kita atau di tenggorokankita atau di pita suara kita, agar segala perkataan kita tidak pernah menyakiti perasaan orang lain, agar segala perkataan kita bisa mendatangkan daripada kebahagiaan, bisa mendatangkan rejeki, bisa mendatangkan anugrah dari Tuhan.

Kemudian Bija atau Wija itu juga di telan. Di telan dalam artian, jangan digigit, atau dikunyah. Ini sebagai simbol untuk menemukan kesucian rohani, dan tumbuh kembangnya benih ke-Siwaan atau sifat kedewataan, dengan harapan agar memperoleh kesempurnaan hidup, agar spiritual kita menjadi meningkat dari sebelumnya.

Kemudian tata cara memproleh Tirta Wangsuh Pada dan Bija. Pertama-tama siapkan sebuah tempat Tirta dan tempat Bija yang sukla keberadaannya dan tentunya tempat itu sudah dalam kadaan bersih. Isi tempat Tirta dengan air yang bersih. Jangan pakai air bekas atau air kelihatan kotor. Kemudian isi tempat Bija dengan beras yang sudah dijuji bersih, dan diutamakan yang masih dalam kadaan utuh. Tempatkan di pelinggi utama, di mana kita melakukan persembahianan. Kemudian baru melakukan persembahyangan.

“Nah, selesai melakukanpersembahyangan, ambil Tirta Wangsuh Pada, kemudian mohonkanlah dan niatkanlah dengan iklas ke hadapan Ida Sanghyang Ista Dewata yang melinggih di pelinggih tersebut atau Ida Sanghyang Widhi Wasa, dalam segala perwujudannya, bahwa kita akan nunas Wangsuh Padan Ida” tambah Ida Bagus Edi Dananjaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....