Penyempitan Saluran Irigasi Picu Banjir Perkotaan
- 13 Jul 2026 11:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar-Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Provinsi Bali, memperingatkan masyarakat mengenai tingginya ancaman genangan banjir di wilayah perkotaan, akibat masifnya aktivitas alih fungsi lahan sawah menjadi area pemukiman padat. Penelaah Kebijakan Teknis BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suwirta, S.Sos., mengungkapkan fenomena perubahan tata ruang yang pesat di beberapa kota besar seperti Denpasar, berdampak langsung pada rusaknya sistem drainase alami, yang sebelumnya dikelola dengan baik oleh krama Subak.
Wayan Suwirta menyatakan bahwa perubahan fungsi lahan ini, secara otomatis mengubah kapasitas tampung saluran air tradisional. "Banyak alih fungsi lahan menjadi pemukiman, sehingga saluran irigasi yang tadinya lebar sekarang menjadi menyempit dan memicu terjadinya banjir " ujar Wayan Suwirta ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Kamis, 9 Juli 2026.
Wayan Suwirta menambahkan dampak buruk dari hilangnya daerah resapan air ini, mulai dirasakan warga saat intensitas hujan tinggi mengguyur wilayah perkotaan, hingga memicu luapan air ke jalan raya. Saluran irigasi yang telah berubah menjadi selokan pemukiman tersebut, kini tidak lagi mampu mengakomodasi volume air dalam jumlah besar yang mengalir dari wilayah hulu.
Kondisi ini diperparah oleh hilangnya fungsi petak sawah, yang semula bertindak sebagai tempat parkir air alami, sebelum dialirkan menuju hilir sungai. "Sempitnya saluran irigasi membuat drainase tidak dapat menahan volume air dari hulu sehingga luapan banjir langsung masuk ke wilayah pemukiman," ucap Wayan Suwirta.
Wayan Suwirta mengingatkan bahwa ketidakseimbangan pembangunan fisik dengan daya dukung lingkungan, akan melahirkan ancaman bencana kronis bagi warga kota. Pemerintah daerah juga diminta untuk mengevaluasi kembali, pemberian izin mendirikan bangunan di atas jaringan pengairan tersier, yang masih aktif.
Penutupan sepihak jalur air oleh pengembang properti, tanpa adanya jalur substitusi menjadi pemicu utama genangan air di jalan protokol. Selain itu menurut Wayan Suwirta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kapasitas drainase juga sangat dibutuhkan, agar risiko bencana hidrometereologi di kawasan perkotaan dapat diantisipasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....