Armand Joger Beberkan Enam Syarat bila Kembali Dipilih Memimpin FORKI Bali
- 03 Sep 2026 21:41 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Badung- Dukungan 13 dari 16 pemilik hak suara belum membuat Armand Setiawan Wulianadi atau Armand Joger otomatis bersedia kembali memimpin Pengprov FORKI Bali periode 2026-2030. Bahkan dengan tegas, Armand Joger mengungkapkan keyakinannya baru 45 persen untuk maju kembali sebagai Ketum Pengprov FORKI Bali.
Hal tersebut diungkapkannya kepada awak media pada Kamis 3 September 2026 di Kuta. “Masih 50 persen masih enggak kepengin maju sih. Saya belum pernah memberikan sebuah pernyataan bersedia,” tambahnya.
Keraguan tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawabnya di luar organisasi. Armand Joger mengaku selama empat tahun terakhir cukup banyak membagi waktu antara mengurus FORKI Bali dengan tanggung jawab terhadap perusahaan dan keluarga.
“Empat tahun saya ngurus FORKI Bali, keluarga Joger ini lumayan keteteran juga,” ungkapnya.
Karena itu, ia membutuhkan kepastian apabila kembali dipilih memimpin, beban membangun prestasi karate Bali benar-benar harus menjadi tanggung jawab bersama. Armand mengaku tidak ingin dukungan yang diberikan kepadanya hanya bersifat formalitas atau sekadar ucapan.
Ia berharap ada komitmen nyata dari seluruh pihak untuk bersama-sama membawa Bali mencapai prestasi tertinggi. “Jangan jadi jebakan, jangan lip service saja. Kalau mau benar-benar maju bersama, ayo,” katanya.
Itu sebabnya secara gamblang, Armand Joger menyampaikan enam komitmen yang menurutnya harus menjadi kesepakatan bersama apabila dirinya diminta mempertimbangkan kembali pencalonan sebagai Ketua Umum FORKI Bali. Enam poin tersebut dituangkan Armand Joger dalam pernyataan sikapnya yang diperlihatkan kepada awak media.
Pada prinsipnya ia menyatakan tidak berkenan dicalonkan kembali. Namun, sikap tersebut bukan berarti Armand menutup seluruh kemungkinan. Ia menyatakan masih bersedia mempertimbangkan kembali amanah tersebut apabila seluruh stakeholder di Pengprov FORKI Bali memiliki komitmen yang sama untuk membangun organisasi dan meningkatkan prestasi karate Bali.
Bagi Armand, dukungan suara saja tidak cukup untuk menerima sebuah tanggung jawab kepemimpinan. “Dukungan suara saja tidak cukup menjadi alasan untuk menerima sebuah amanah kepemimpinan,” tulis Armand dalam surat pernyataannya.
Komitmen pertama yang ditekankan Armand adalah menempatkan kepentingan FORKI Bali dan kemajuan prestasi karate Bali di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Menurutnya, kepemimpinan organisasi tidak seharusnya berjalan berdasarkan kepentingan tertentu.
Seluruh pihak harus memiliki tujuan yang sama untuk membawa karate Bali mencapai prestasi terbaik. Hal ini menjadi penting karena Armand melihat potensi prestasi karate Bali menuju PON XXII 2028, NTB-NTT sangat besar.
Ia bahkan memiliki keyakinan Bali bisa menjadi kekuatan dominan di sejumlah kelas pada ajang tersebut. Armand juga meminta seluruh stakeholder menjunjung tinggi kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab, serta etika dalam menjalankan organisasi.
Bagi dia, dukungan terhadap seorang calon ketua tidak cukup hanya diwujudkan melalui surat. Ada tanggung jawab moral yang harus menyertai dukungan tersebut.
Ia ingin orang-orang yang berada di belakang kepemimpinannya nantinya benar-benar siap bekerja bersama, bukan hanya memberikan dukungan di awal.
Poin ketiga berkaitan dengan aturan organisasi. Armand meminta seluruh pihak menghormati AD/ART, peraturan organisasi, serta setiap keputusan yang dihasilkan melalui mekanisme yang sah. Menurutnya, organisasi harus memiliki aturan main yang jelas dan seluruh pihak harus tunduk pada mekanisme tersebut.
Dengan demikian, persoalan organisasi tidak diselesaikan berdasarkan tekanan atau kepentingan masing-masing pihak. Armand tidak mempersoalkan adanya perbedaan pendapat di dalam FORKI Bali.
Ia justru menyebut perbedaan merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah organisasi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana perbedaan tersebut diselesaikan.
Karena itu, ia meminta setiap perbedaan diselesaikan melalui musyawarah dan mekanisme organisasi, bukan melalui pembangkangan, perlawanan, tekanan, atau tindakan yang dapat mengganggu persatuan. “Perbedaan pendapat merupakan bagian yang wajar dalam sebuah organisasi,” tulisnya.
Namun, ia berharap perbedaan tetap disampaikan dengan cara yang baik, jujur, terbuka, dan menghormati norma organisasi. Komitmen kelima menyentuh aspek yang lebih mendasar, yakni persaudaraan di antara insan karate Bali.
Armand meminta seluruh pihak menjaga kehormatan sesama insan karate dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila, sportivitas, disiplin, rasa hormat, serta nilai yang terkandung dalam Sumpah Karate sebagai pedoman. Baginya, prestasi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan persatuan organisasi.
Karena itu, semangat kompetisi di arena harus tetap berjalan beriringan dengan rasa persaudaraan di dalam organisasi. Poin terakhir menjadi salah satu penekanan Armand dalam surat tersebut. Ia meminta seluruh stakeholder bersedia bekerja bersama secara konstruktif dengan menempatkan FORKI Bali sebagai tanggung jawab bersama.
Artinya, apabila dirinya kembali dipercaya sebagai ketua umum, persoalan organisasi maupun target prestasi tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada ketua. Hal ini sejalan dengan pernyataan Armand dalam wawancara sebelumnya.
Ia mengatakan target besar seperti menjadi juara umum PON XXII 2028, NTB-NTT membutuhkan komitmen, biaya, dan kesiapan bersama. “Kalau memang mau mendukung saya, sebenarnya yuk dukung saya untuk maju di PON 2028 ini. Siap enggak jadi juara umum?," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....