Wamenkomdigi: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pengguna Teknologi AI
- 14 Sep 2026 15:26 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi kecerdasan artifisial (AI). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat 11 September 2026 dikutip dari komdigi.go.id mengatakan, Indonesia perlu mengambil posisi dalam rantai industri AI global dengan mengamankan titik strategis yang dapat memberi nilai tambah sekaligus memperkuat daya tawar nasional. Menurut Wamen Nezar, peluang tersebut terbuka karena Indonesia memiliki sumber daya yang dibutuhkan dalam rantai industri semikonduktor, salah satu fondasi utama ekosistem AI.
Menurutnya, tantangan selama ini mengubah sumber daya tersebut menjadi bagian dari rantai nilai teknologi, bukan berhenti sebagai komoditas. “Ini saatnya kolaborasi harus dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang end-to-end,” ujar Wamen Nezar.
Wamen Nezar menjelaskan, industri AI tidak hanya berada pada lapisan aplikasi yang digunakan masyarakat dan pelaku usaha. Di bawahnya terdapat rantai industri yang mencakup kebutuhan energi dan air, pusat data dan compute power, semikonduktor, platform, hingga aplikasi.
Menurut Wamen Nezar Indonesia memiliki peluang untuk masuk lebih dalam ke rantai tersebut. Salah satunya melalui material yang dibutuhkan industri semikonduktor. “Yang namanya semikonduktor itu membutuhkan begitu banyak material, termasuk juga critical mineral. Nah, kita punya banyak di Indonesia yang akan menyumbang untuk pembuatan semikonduktor,” katanya.
Wamen Nezar menyebut nikel, pasir silika, timah, tembaga, dan emas sebagai sejumlah sumber daya yang dimiliki Indonesia. Namun, kepemilikan bahan baku saja belum cukup untuk menciptakan posisi strategis. “Pasir silika kita 7,8 miliar ton menurut data ESDM. Tetapi tidak ada yang mengolahnya menjadi silicone wafer yang dibutuhkan untuk membuat semikonduktor,” ujarnya.
Menurut Wamen Nezar, kemampuan mengolah sumber daya menjadi material strategis dapat menciptakan apa yang disebutnya sebagai choke point, yakni titik penting dalam proses produksi yang dikuasai oleh pihak tertentu dan sulit digantikan. “Dalam industri ini, siapa yang menguasai barang-barang yang langka, dia akan menguasai choke point. Choke point itu bukan seperti menguasai Selat Hormuz atau Selat Malaka, tetapi dalam proses produksi ada titik-titik sempit yang dikuasai oleh negara-negara tertentu saja,” jelasnya.
Karena itu, Indonesia tidak harus menguasai seluruh rantai industri AI untuk mendapatkan posisi strategis. Wamen Nezar menilai Indonesia dapat memilih bagian tertentu yang memiliki nilai strategis dan kemudian membangun kapasitas di bagian tersebut.
“Mungkin kita tidak akan masuk seperti Taiwan, karena itu butuh waktu yang panjang. Tapi setidaknya kita mengamankan beberapa material yang dibutuhkan oleh industri-industri seperti yang berbasis di Taiwan, di Korea Selatan. Materialnya itu ada di kita,” katanya.
Langkah tersebut dinilai penting di tengah persaingan global untuk menguasai teknologi AI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....