Wamenkomdigi: Aceh Harus Jadi Pengawal Teknologi Selat Malaka

  • 08 Sep 2026 11:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Posisi Aceh di ujung Selat Malaka menjadi peluang strategis membangun kapasitas teknologi dan ekonomi digital daerah. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam diskusi Aceh, Selat Malaka, dan Masa Depan Digital Indonesia di Banda Aceh dikutip dari komdigi.go.id mengatakan Selat Malaka tidak hanya penting sebagai jalur perdagangan dunia.

Kawasan tersebut juga menjadi bagian dari jalur infrastruktur digital global melalui kabel komunikasi bawah laut yang menghubungkan berbagai negara. “Subsea cable yang menghubungkan internet yang kita pakai sekarang itu melintas di bawah Selat Malaka,” tutur Wamen Nezar.

Menurut Wamen Nezar, posisi geografis tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi. Aceh perlu memiliki kapasitas untuk menciptakan nilai dari posisi strategis tersebut. Ia menilai tantangan ke depan bukan sekadar menghadirkan konektivitas digital, tetapi memastikan masyarakat Aceh memiliki kemampuan untuk menguasai teknologi dan memanfaatkannya bagi kebutuhan ekonomi, pemerintahan, dan masyarakat.

“Yang penting bukan lagi Selat Malaka sebagai anugerah geografis. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menciptakan nilai dari Selat Malaka itu,” tegasnya.

Wamen Nezar mencontohkan infrastruktur kabel bawah laut yang melintasi Selat Malaka. Infrastruktur tersebut menghubungkan lalu lintas data antarnegara dan menjadi bagian penting dari ekosistem internet. Namun, titik gateway utama saat ini banyak terkonsentrasi di Singapura.

Kondisi tersebut, menurut Wamen Nezar, perlu menjadi bahan pemikiran bagi Indonesia untuk melihat peluang pengembangan infrastruktur dan ekosistem digital di wilayah yang berada di sekitar jalur strategis tersebut. “Kenapa gateway-nya tidak ada di Sabang atau di tempat-tempat yang berada dalam kontrol kita? Ini menjadi pertanyaan yang perlu kita jawab,” kata Wamen Nezar.

Wamen Nezar menilai Aceh memiliki modal awal untuk mengambil peluang tersebut. Aceh memiliki perguruan tinggi, komunitas teknologi, talenta muda, serta posisi geografis yang berhadapan langsung dengan jalur perdagangan dan konektivitas internasional. Kementerian Komdigi menempatkan pengembangan talenta dan kewirausahaan berbasis teknologi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem digital di daerah.

Wamen Nezar menambahkan, melalui Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh, talenta lokal dapat memperoleh akses ke pembinaan, jejaring bisnis, pengembangan produk, hingga peluang bertemu investor. Program ini menjadi bagian dari upaya membuka akses ekosistem digital nasional dan global bagi talenta di luar Pulau Jawa.

“Jadi, di sana nanti para talenta digital bisa dilatih dengan berbagai macam ilmu pengetahuan, skill, upscaling bisnis mereka, lalu nanti ditemukan dengan investor untuk dibuka akses finansialnya, lalu nanti di-coaching juga bagaimana dia bertumbuh setelah dapat pendanaan sampai kemudian bisa dilepas untuk bertumbuh,” tuturnya.

Menurut Wamen Nezar, teknologi juga tidak harus selalu hadir dalam bentuk inovasi yang kompleks. Teknologi dapat memberi nilai ketika digunakan untuk menyelesaikan persoalan konkret, termasuk sektor perikanan, pertanian, perdagangan, dan layanan pemerintahan.

Ia menilai pendekatan tersebut penting bagi Aceh agar potensi sumber daya yang dimiliki dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi. “Yang kita butuhkan adalah value creation. Penciptaan nilai dari berbagai sumber daya yang ada melalui teknologi, keterampilan, dan inovasi,” ujar Wamen Nezar.

Wamen Nezar berharap generasi muda Aceh melihat posisi geografis daerahnya sebagai peluang untuk membangun masa depan. Penguasaan teknologi, kemampuan menciptakan produk, serta keterhubungan dengan ekosistem global menjadi modal untuk mengubah posisi strategis Aceh menjadi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Jangan hanya melihat Selat Malaka sebagai jalur yang dilewati. Kita harus mampu mengambil nilai dari sana,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....