Algoritma Mengejar Perhatian, Jurnalisme Menjaga Kepercayaan

  • 01 Agt 2026 11:24 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Surabaya - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai persaingan ruang digital tidak lagi sekadar memperebutkan informasi, tetapi juga membentuk persepsi publik. Di tengah algoritma platform yang dirancang mengejar perhatian pengguna dan kemajuan kecerdasan artifisial yang mampu menghasilkan konten secara instan, ia menegaskan jurnalisme profesional tetap menjadi penjaga fakta dan kepercayaan publik.

Hal itu dikatakan Wamenkomdigi Nezar Patria di Surabaya dikutip dari komdigi.go.id. Menurut Wamen Nezar, media arus utama dituntut untuk memperkuat fungsi jurnalistik dengan mengedepankan akurasi, verifikasi, etika, dan kredibilitas.

Di saat banjir konten digital, jurnalisme harus mampu menjadi ruang penjernih informasi yang dapat dipercaya publik. "Jurnalisme harus mendapatkan satu momentum yang tepat untuk bisa kembali merebut perhatian. Karena algoritma dari platform yang dipakai untuk menyebarkan informasi bekerja menarik atensi kita, akan tetapi Jurnalisme dibutuhkan sebagai ruang penjernih informasi," jelasnya.

Seiring pesatnya perkembangan platform digital, Wamen Nezar juga menjelaskan bahwa kemajuan AI semakin memperbesar tantangan yang dihadapi media. Teknologi kini mampu menghasilkan artikel, gambar, hingga video yang tampak autentik, termasuk konten manipulatif seperti deepfake, sehingga meningkatkan risiko penyebaran informasi yang menyesatkan.

"Kondisi itu membuat penyebaran disinformasi semakin cepat dan semakin sulit dikenali masyarakat apabila tidak diimbangi dengan praktik jurnalisme yang profesional," ujarnya.

Wamen Nezar menjelaskan tantangan ruang digital saat ini bukan semata banyaknya informasi, melainkan cara algoritma platform membentuk perhatian dan persepsi publik melalui mekanisme echo chamber dan filter bubble. Akibatnya, masyarakat berpotensi terus menerima informasi yang seragam tanpa ruang untuk menguji kebenarannya.

"Yang kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, tetapi juga kompetisi membentuk persepsi. Karena itu, masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan sekadar mengejar viralitas," ungkapnya.

Wamen Nezar menilai media lokal memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga kualitas ruang informasi nasional. Di tengah dominasi platform digital, media lokal mampu menghadirkan fakta-fakta yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus menangkap gejala sosial, ekonomi, maupun pelayanan publik secara lebih dini.

"Media lokal menghadirkan percakapan publik yang lebih autentik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dari media lokal kita bisa membaca berbagai persoalan secara lebih utuh sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar," jelasnya.

Wamen Nezar menambahkan kemampuan media lokal membangun kepercayaan publik menjadi modal penting dalam memperkuat ekosistem informasi yang sehat. Di tengah derasnya arus konten digital, keberadaan media yang menjalankan kode etik jurnalistik tetap menjadi fondasi bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hal tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Komdigi dalam mewujudkan ruang digital Indonesia yang aman, tepercaya, dan berkualitas melalui penguatan tata kelola ruang digital, penanganan disinformasi, peningkatan literasi digital, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Wamen Nezar juga mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas jurnalisme di tengah disrupsi teknologi.

Menurutnya, ketika algoritma berlomba merebut perhatian publik, kepercayaan hanya dapat dibangun melalui kerja jurnalistik yang menjunjung tinggi fakta, akurasi, dan integritas. "Selama media tetap memegang teguh kode etik jurnalistik, saya yakin jurnalisme akan tetap menjadi rujukan publik dan terus relevan di era digital," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....