Kemandirian Produksi Sektor Obat-obatan Perkuat Industri Farmasi Nasional

  • 27 Jul 2026 10:34 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah mendorong penguatan industri farmasi nasional sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem industri kesehatan yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing. Kolaborasi antara pelaku industri nasional dan mitra global menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat transfer teknologi, pengembangan inovasi, peningkatan kapasitas manufaktur, penguatan rantai pasok, serta pengembangan sumber daya manusia.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan modern dan berkualitas, sekaligus memperkuat kemandirian sektor obat-obatan nasional. Di sisi lain, terjalinnya kemitraan strategis antara pelaku usaha nasional dan mitra global juga mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek perekonomian Indonesia serta iklim investasi yang semakin kondusif.

Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Ceremony of the Establishment of PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) di Jakarta, Jumat 24 Juli 2026 dikutip dari ekon.go.id. “Saya ucapkan selamat, dan keberhasilan PT Tempo Scan mengandeng Sino Bio Farmasi (Sino Biopharmaceutical Group), ini merupakan hal yang luar biasa dan juga ini menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap prospek perekonomian di Indonesia. Join Venture dengan Chia Tai Tianqing Farmasi (Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group)-CTTQ ini tepat waktu, karena Bapak Presiden selalu mengharapkan kita punya kemandirian di bidang obat-obatan,” ujarnya.

Menko Airlangga menjelaskan, kerja sama yang terjalin diharapkan mampu mendorong pengembangan biofarmasi nasional, khususnya untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan bagi penanganan penyakit onkologi, penyakit hati (liver), diabetes, penyakit pernapasan, serta antiinfeksi. Kerja sama tersebut juga diharapkan mendukung pengembangan dan produksi berbagai produk biologis bernilai tinggi, seperti antibodi monoklonal, biosimilar, protein rekombinan, sitokin, dan insulin biologis yang selama ini belum seluruhnya tersedia di dalam negeri.

Melalui kemitraan tersebut, berbagai jenis obat dan produk biologis tersebut diharapkan dapat diproduksi di Indonesia sehingga memperkuat kemandirian industri farmasi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. “Dan harapannya, dengan biofarmasi ini, kita punya tambahan kemandirian di bidang obat-obatan yang selama ini bergantung kepada impor, dan tentunya obat-obat yang akan diproduksi ini termasuk obat-obat impor yang relatif mahal,” tuturMenko Airlangga.

Selanjutnya, melalui kolaborasi Join Venturetersebut diharapkan menjadi tonggak dimulainya kemitraan kedua perusahaan dalam mendukung pengembangan industri farmasi nasional melalui transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kapabilitas manufaktur, serta penguatan rantai pasok industri kesehatan dalam negeri. Dalam jangka panjang, kemitraan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia.

Menko Airlangga juga mengapresiasi capaian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia yang telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai WHO-Listed Authority (WLA). Pengakuan tersebut menempatkan Indonesia dalam jajaran regulator obat berstandar internasional.

Adapun secara global, terdapat 41 otoritas regulatori dari 39 negara yang masuk dalam daftar WLA, dengan BPOM RI berada dalam jajaran 10 regulator obat terbaik dunia sekaligus menjadi satu-satunya otoritas regulatori mandiri dari negara berkembang yang berhasil mencapai standar internasional tertinggi tersebut. Capaian tersebut diharapkan semakin memperkuat kredibilitas Indonesia dalam mengembangkan industri farmasi nasional serta meningkatkan kepercayaan investor global terhadap sektor kesehatan Indonesia.

Sementara, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, menambahkan pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) akan semakin memperkuat kemandirian produksi obat nasional melalui sinergi kemampuan manufaktur yang dimiliki PT Tempo Scan Pacific Tbk (Tempo Scan) dengan pengembangan produk dari Sino Biopharmaceutical Group (SBP Group). “Tadi Bapak Menko sudah jelaskan, bahwa ini akan menambah kemandirian produksi karena manufacturing-nya di Grup Tempo dan produknya dari Grup CTTQ. Kolaborasi ini menjadi contoh kemitraan yang sangat strategis,” ujar Jubir Haryo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....