Kunci Ekonomi Digital Bukan Pasar Besar, Tetapi Kolaborasi Ekosistem
- 25 Jun 2026 06:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia menguasai sekitar 40 persen ekonomi digital ASEAN dan diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital hingga USD360 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan besarnya pasar tidak akan otomatis menjadikan Indonesia sebagai kekuatan teknologi global.
Hal itu dikatakan Wamenkomdigi Nezar Patria dalam Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta Selatan dikutip dari komdigi.go.id. Menurutnya, masa depan ekonomi digital nasional ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem yang terhubung, mulai dari infrastruktur, talenta, industri, hingga inovasi teknologi.
“Kita sudah mengeksplorasi delapan prioritas untuk pembangunan ekosistem digital di Indonesia dengan spektrum yang cukup luas dan rentang yang beragam, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi sampai dengan peningkatan efisiensi biaya logistik nasional. Saya kira di setiap layer, seperti sudah disampaikan oleh Ibu Menteri tadi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperkuat ekosistem nasional,” ujar Wamen Nezar Patria.
Wamen Nezar menegaskan pembangunan ekosistem digital merupakan bagian penting dari strategi Indonesia Digital 2045. Langkah yang diambil saat ini akan menentukan kemampuan Indonesia mencapai kemandirian teknologi pada 2045.
“Tahap yang kita lalui sekarang akan menentukan apakah pada 2045 kita bisa mencapai tujuan strategis nasional kita untuk kemandirian teknologi. Penguatan kolaborasi adalah kata kunci yang paling penting yang harus sama-sama kita internalisasi dan bagaimana kita eksekusi,” tutur Wamen Nezar.
Untuk mempercepat pembangunan digital nasional, Indonesia perlu belajar dari negara yang berhasil membangun fondasi ekonomi digital melalui penguatan infrastruktur publik digital. Salah satu contoh yang dinilai relevan adalah India yang membangun sistem identitas dan pembayaran digital sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi digital nasional.
“Dengan India mungkin kita bisa belajar banyak bagaimana mereka mulai membangun ekosistem digital ini sepuluh tahun yang lalu, pada 2015. Apa yang mereka perkuat? Mereka memperkuat infrastruktur publik digitalnya,” ungkapnya.
Menurut Wamen Nezar, infrastruktur publik digital yang inklusif mampu mendorong layanan keuangan, memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital, dan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital.
“Kita tahu India mencoba membangun satu sistem yang inklusif dengan membuat Unified Payment Interface atau UPI dan sistem Aadhaar. Dan itu bisa menjadi driver untuk financial services yang ada di India dan kemudian menjadi backbone untuk tumbuhnya ekosistem ekonomi digital yang ada di India,” jelas Wamen Nezar.
Wamen Nezar menyebut, selain memperkuat fondasi domestik, Indonesia juga perlu meningkatkan posisi dalam rantai pasok global teknologi digital, terutama pada pengembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Penguasaan teknologi strategis dinilai menjadi syarat penting untuk meningkatkan daya saing nasional.
“Kita lihat bagaimana setelah kekuatan ekosistem ini dibangun, perlu juga untuk diperhatikan bagaimana dengan kekuatan nasional yang kita miliki kita bisa menembus rantai pasar global. Saya kira ini yang paling penting, global supply chain dalam ekonomi digital, khususnya adopsi teknologi-teknologi yang advanced atau emerging technology, seperti misalnya artificial intelligence,” tegasnya.
Meski memiliki potensi besar, Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan AI dan belum menempati posisi strategis dalam rantai nilai global teknologi tersebut. Karena itu, pembangunan ekosistem digital nasional harus memiliki arah yang jelas agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan inovasi.
“Komitmen kita untuk membangun satu ekosistem digital nasional harus punya tujuan strategis nasional yang sama-sama kita pegang sebagai north star ke mana kita menuju,” imbuhnya.
Wamen Nezar mengatakan, potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD105 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi USD260 miliar hingga USD360 miliar pada masa mendatang. Indonesia juga menjadi kontributor terbesar ekonomi digital di Asia Tenggara dengan porsi sekitar 40 persen.
Menurutnya, besarnya peluang tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat dan terukur di seluruh rantai nilai ekonomi digital. “Kontribusi Indonesia untuk ASEAN sekitar 40 persen. Kalau kawasan ASEAN bertumbuh 1 triliun USD, kita menyumbang 365 miliar USD. Saya kira kita punya share yang cukup besar dari pertumbuhan ekonomi digital di kawasan. Dan itu sangat ditentukan oleh kolaborasi yang kita buat di dalam ekosistem digital ini,” ujarnya.
Melalui DEAL 2026, pemerintah berharap lahir kolaborasi yang mampu memperkuat daya saing nasional, mempercepat pertumbuhan ekonomi digital, dan mendorong terwujudnya kemandirian teknologi Indonesia. “Indonesia tidak kekurangan talenta. Indonesia tidak kekurangan ide. Indonesia tidak kekurangan semangat. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk bergerak bersama,” pungkas Wamen Nezar Patria.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....