Pemerintah Jaga Stabilitas Sistem Keuangan Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional

  • 06 Mei 2026 16:14 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan perekonomian nasional menunjukkan kinerja yang tetap solid di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Kinerja tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2026 yang tetap terjaga dan bahkan lebih baik dibandingkan sejumlah negara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Keterangan Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Selasa 5 Mei 2026 dikutip dari ekon.go.id mengatakan, hal ini menunjukkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pemerintah terus menjaga stabilitas makroekonomi serta mendorong akselerasi pertumbuhan melalui penguatan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.

“Dari hasil tadi pengumuman BPS di kuartal pertama, baik. Kita pertumbuhannya di 5,61 (persen) dan pertumbuhan ini adalah di antara negara G20, tertinggi. Jadi kita di atas Cina, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab, bahkan Amerika, dan pertumbuhan ini di atas daripada ekspektasi dari berbagai lembaga,” ujarnya.

Menko Airlangga mengungkapkan, dari sisi stabilitas makro, inflasi berhasil ditekan pada level 2,42%. Neraca perdagangan mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa tetap kuat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menambahkan bahwa perekonomian nasional saat ini tengah memasuki fase akselerasi pertumbuhan. Pemerintah akan terus menjaga momentum tersebut melalui penguatan koordinasi kebijakan serta menyiapkan berbagai stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan salah satu topik yang dibahas dalam rapat bersama Presiden yakni terkait nilai tukar rupiah. Perry Warjiyo menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada pada level yang undervalued, namun ke depan diyakini akan cenderung menguat seiring dengan fundamental ekonomi yang kuat. Beliau juga menyampaikan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek lebih dipengaruhi oleh faktor global dan faktor musiman.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan perhatian Presiden terhadap dinamika capital outflow di pasar keuangan domestik telah dibahas dalam rapat tersebut. Menurut Friderica, kondisi outflow saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan geoekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga global yang masih tinggi. Meski demikian, Friderica meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap baik sehingga kondisi pasar diharapkan dapat kembali membaik ke depan.

Friderica juga menjelaskan berbagai langkah perbaikan terus dilakukan untuk menjawab perhatian investor global terhadap transparansi dan likuiditas pasar modal Indonesia. Sejumlah langkah tersebut antara lain melalui keterbukaan data pemegang saham, penyajian data yang lebih granular, pengungkapan ultimate beneficial owner, serta penguatan free float.

Ke depan, Pemerintah optimistis kinerja ekonomi nasional akan tetap terjaga dan semakin menguat, didukung oleh fundamental yang solid serta sinergi kebijakan yang berkelanjutan. Melalui koordinasi yang erat antar otoritas dan pemangku kepentingan, ekonomi Indonesia diharapkan terus tumbuh lebih tinggi, stabil, dan semakin berdaya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....