Keselamatan Wisata Fondasi Pariwisata Generatif Berkelanjutan

  • 12 Feb 2026 10:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Keselamatan wisata merupakan fondasi utama dalam membangun ekosistem pariwisata generatif yang berkelanjutan di Indonesia. Hal itu dikatakan Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini Mohamad Paham, dalam opening remarks Kuliah Umum bertajuk “Keselamatan Wisata”, Rabu 11 Februari 2026 dikutip dari kemenpar.go.id.

“Keselamatan bukan sekadar pelengkap dalam aktivitas wisata, melainkan prasyarat mutlak untuk mewujudkan destinasi yang tangguh, berdaya saing, dan dipercaya wisatawan,” katanya.

Martini menjelaskan keselamatan wisata dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca dan karakteristik alam, hingga aspek teknis operasional serta faktor manusia atau human error. Namun demikian, standar keselamatan yang kuat hanya dapat terwujud melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.

“Selain civitas akademika, pelaku usaha dan PHRI memegang peranan penting dalam menjaga keselamatan wisata. Tidak kalah penting, kita sendiri sebagai wisatawan dan calon wisatawan juga memiliki tanggung jawab yang sama,” ujar Martini.

Menurut Martini, wisatawan masa kini tidak lagi dapat bersikap pasif. Mereka perlu menjadi wisatawan yang bertanggung jawab melalui dua langkah utama, yakni memiliki kesiapan yang matang dalam menjaga keamanan diri sendiri serta memastikan kelayakan perbekalan yang dibawa, dan bersikap disiplin dengan memilih jasa pelayanan pariwisata yang telah memiliki sertifikat, izin resmi, serta lisensi khusus. Langkah tersebut dinilai sebagai cara paling efektif untuk meminimalkan sekaligus memitigasi risiko kecelakaan, khususnya pada sektor transportasi pariwisata yang kerap menjadi perhatian publik.

Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata, Fadjar Hutomo, menambahkan daya tarik alam memang menjadi magnet awal sebuah destinasi, namun keselamatan adalah fondasi yang menentukan keberlanjutan kunjungan wisatawan.

“Mahasiswa Poltekpar adalah arsitek pariwisata masa depan. Kita harus membangun ekosistem pariwisata Indonesia yang tangguh. Destinasi yang paling indah sekalipun dapat ditinggalkan jika tidak mampu memberikan rasa aman,” kata Fadjar.

Fadjar menekankan rasa aman bukan hanya elemen pendukung, melainkan bagian dari kualitas layanan yang menentukan reputasi destinasi di mata dunia.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengerahan Potensi dan Pengendalian Operasi Kecelakaan Transportasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Jumaril, menegaskan bahwa keselamatan wisata bukan semata tanggung jawab lembaga penanggulangan atau operator layanan, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh pihak, termasuk pengunjung.

“Mahasiswa Poltekpar di bawah naungan Kemenpar yang kelak menjadi pemangku kebijakan harus menjadi role model dalam menanamkan budaya keselamatan sejak dini dan mampu memengaruhi lingkungan sekitarnya untuk berbudaya safety,” ujar Jumaril.

Dalam kesempatan yang sama, President of UID Foundation, Tantowi Yahya, menyampaikan Kementerian Pariwisata perlu terus berperan sebagai katalisator yang memiliki wibawa dalam menggerakkan seluruh elemen ekosistem pariwisata.

“Kementerian Pariwisata harus menjadi motivator, katalisator, dan penggerak yang mampu menggerakkan mesin pariwisata di daerah agar ekosistemnya tetap terjaga,” ujarnya.

Melalui penguatan literasi keselamatan, pembentukan budaya sadar risiko, serta kolaborasi lintas sektor, Kementerian Pariwisata terus mendorong terwujudnya pariwisata Indonesia yang tidak hanya indah dan berdaya tarik global, tetapi juga aman, tangguh, dan membanggakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....