Guru Hadapi Sejumlah Tantangan di Era Kecerdasan Artifisial

  • 02 Feb 2026 17:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Surakarta - Guru di era kecerdasan artifisial (KA) saat ini dihadapkan pada tantangan untuk menjaga martabat profesi di tengah upaya memperkuat kompetensi SDM Indonesia di masa depan. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq dalam Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, dikutip dari kemendikdasmen.go.id. 

Ia menegaskan, perkembangan KA tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan peran pendidik dalam membentuk karakter generasi bangsa. “Sebagai refleksi, perkembangan teknologi global menunjukkan lebih dari 78 persen organisasi dunia telah memanfaatkan KA, dan otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja global,” ujarnya.

Wamendikdasmen Fajar menyebut, perubahan ini berdampak langsung pada dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru dalam membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan. Menurutnya, KA tidak menggantikan guru melainkan berfungsi sebagai asisten dalam proses pembelajaran. 

Wamendikdasmen Fajar mencontohkan keberadaan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai wujud pemanfaatan teknologi yang memberikan pengalaman belajar murid secara bermakna dan menggembirakan. Ia menegaskan, KA  dapat membantu personalisasi belajar, analitik pembelajaran, serta efisiensi kerja guru. Namun, nilai keteladanan, empati, kebijaksanaan, dan pembentukan karakter tetap menjadi peran utama guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. 

“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru menjadi penentu arah dan makna pemanfaatan teknologi,” tutur Wamendiksamen Fajar.

Menurut Wamendikdasmen Fajar, pemanfaatan KA membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, antara lain melalui pembelajaran yang lebih inklusif, personalisasi materi sesuai kebutuhan murid, serta inovasi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan tantangan nyata. 

“Peluang tersebut hanya akan bermakna apabila guru memiliki literasi digital yang kritis dan kapasitas pedagogik yang kuat,” ujarnya.

Wamendikdasmen Fajar juga menyoroti tantangan etis penggunaan KA dalam pendidikan, seperti risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi, menurunnya daya kritis peserta didik, serta penggunaan KA tanpa tanggung jawab. Wamen Fajar menyampaikan peningkatan kompetensi guru menjadi kunci untuk memastikan pemanfaatan KA yang bijak, kritis, dan bermartabat. 

Ia menekankan, orientasi pengajaran saat ini kata Fajar adalah mengapa hal tersebut diajarkan dan bagaimana. Pendekatan di ruang kelas bergeser untuk mengembangkan diri anak menjadi lebih kritis agar mereka lebih berdaya untuk menjelajah dan berimajinasi. 

"Biarlah anak dilatih untuk mengajukan pertanyaan. Kualitas pertanyaan menunjukkan sistem berpikir anak. Kita latih kemampuan mereka dalam mengembangkan pertanyaan bukan menjawab pertanyaan," jelasnya.

Wamendikdasmen Fajar menambahkan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menerapkan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, terintegrasi dalam mata pelajaran lain, serta melalui kegiatan ekstrakurikuler di berbagai jenjang pendidikan. “Hingga Tahun Ajaran 2025/2026, puluhan ribu guru telah mengikuti pelatihan terkait guna memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir komputasional,” tuturnya.

Wamendikdasmen Fajar juga mengingatkan para guru dapat bersikap profesional apabila ditempatkan untuk mengajar di pelosok negeri karena pendidikam bermutu harus bersifat inklusif bagi seluruh anak bangsa. "Harus berbesar hati jika ditempatkan di manapun bertugas. Anak-anak kita yang ada di Flores, di Talaut sana berhak mendapatkan guru dan pendidikan terbaik," tegasnya. 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....