PSEL Pertama RI Dibangun di Bali, Target Olah 500 Ribu Ton Sampah per Tahun
- 09 Jul 2026 06:57 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Pemerintah melalui Danantara Indonesia resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pertama di Indonesia di kawasan Pedungan, Denpasar, Bali, Rabu 8 Juli 2026. Fasilitas berkapasitas 1.500 ton sampah per hari itu ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun sebagai bagian dari percepatan penanganan sampah di Bali.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan PSEL Bali ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 40 persen timbulan sampah di Bali. Proyek ini juga diproyeksikan mampu mengurangi emisi dari tempat pembuangan akhir hingga 80 persen dan menekan emisi karbon sekitar 640 ribu ton CO2 per tahun.
"Proyek ini ditargetkan mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau lebih dari 40 persen timbulan sampah Bali terolah. Dari sisi keunggulan, PSEL Bali juga diproyeksikan dapat mengurangi emisi sampah dari tempat pembuangan akhir hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sebesar 640 ribu ton CO2 per tahun," ujar Rosan Roeslani.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan PSEL Bali ditargetkan rampung dalam waktu sekitar 15 hingga 18 bulan dan mulai beroperasi pada akhir 2027. Ia berharap proyek tersebut dapat selesai lebih cepat agar persoalan sampah yang menjadi tantangan bagi pariwisata Bali segera teratasi.
"Mudah-mudahan bisa selesai 15 bulan atau sekitar Oktober 2027. Kalau ini selesai, akhir tahun 2027 bisa beroperasi bulan Desember. Maka masalah sampah di Bali yang menjadi tantangan bagi pariwisata Bali bisa selesai tuntas," ujar Wayan Koster.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, mengatakan pemerintah telah menyiapkan pembangunan PSEL di 34 kawasan aglomerasi yang mencakup sekitar 60–70 kabupaten/kota di Indonesia. Setelah Denpasar Raya, pembangunan PSEL juga akan dilanjutkan di Bogor Raya dan Bekasi Raya.
"PSEL ini yang didata kami kira-kira ke depannya ada 34 aglomerasi meng-cover 60 sampai 70 kabupaten/kota se-Indonesia," ujar Moh Jumhur Hidayat.
Menurut Jumhur, teknologi waste to energy akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Selain menghasilkan listrik, di sejumlah wilayah hasil pengolahan sampah juga dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif.
"Waste to energy di beberapa tempat mungkin tidak menjadi listrik, tapi bisa jadi bahan bakar untuk energi. Jadi intinya sampahnya terolah dengan baik," ujar Moh Jumhur Hidayat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....