Olahan Makanan Utama Non Beras dalam Mustikarasa
- 15 Jun 2026 14:30 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar : Menurut berbagai sumber, Mustikarasa merupakan buku resep yang ditulis atas Prakarsa Presiden Pertama RI Ir. Soekarno. Buku ini menyimpan berbagai resep masakan dari seluruh Nusantara. Tidak hanya itu dalam buku ini juga membahas ilmu gizi dan panduan tata dapur yang baik. Buku ini juga mengangkat resep pangan lokal non beras yang dapat menjadi alternatif makanan pokok Masyarakat Indoensia.
Makanan pokok non beras yang umum digunakan di Indonesia adalah jagung, singkong, sagu dan lain sebagainya. Makanan non beras ini jika dilah dengan baik, rasanya tidak kalah enaknya dengan beras. Dilansir dari berbagai sumber dalam buku Mustikarasa juga mengangkat resep makanan utama non-beras ini.
Ragam resep makanan utama non-beras yang tercatat dalam dokumen asli Mustikarasa yaitu Olahan Jagung (Djagung), diantaranya Djagung Bose (Nusa Tenggara Timur), Djagung Titi (Alor/Flores) dan Arem-Arem Djagung. Djagung Bose (Nusa Tenggara Timur) adalah biji jagung tua yang ditumbuk di lesung untuk membuang kulit arinya, kemudian direbus lama bersama kacang merah (katjang merah) dan santan encer sampai menjadi bubur kental yang gurih. Djagung Titi (Alor/Flores) merupakan biji jagung yang disangrai setengah matang di wajan tanah liat, lalu diambil panas-panas dan dipukul (dititi) di atas batu datar menggunakan batu pemukul hingga bentuknya pipih menyerupai emping. Sedangkan Arem-Arem Djagung ini mirip dengan arem-arem beras, namun karbohidrat utamanya diganti menggunakan jagung pipil halus yang dimasak setengah matang, diisi tumisan lauk, dibungkus daun pisang, lalu dikukus hingga memadat.
Kemudian ada juga Olahan Singkong dan Ubi (Ketela) yaitu Tiwul dan Gathot. Tiwul merulakan makanan berbahan dasar tepung gaplek (singkong yang dikeringkan). Berdasarkan catatan Mustikarasa/Tiwul, tepung gaplek ini dikerok atau digulirkan dengan percikan air sedikit demi sedikit secara sabar hingga membentuk butiran-butiran kecil (tidak boleh terlalu encer), kemudian langsung dikukus hingga matang dan disajikan bersama kelapa parut. Sedngkan Gathot adalah olahan singkong yang sengaja difermentasi secara alami di bawah panas dan hujan hingga berwarna kehitaman, diiris tipis, direndam untuk menghilangkan getahnya, lalu dikukus bersama garam dan dinikmati sebagai makanan pokok yang kenyal.
Lalu dalam buku ini terdapat olahan Sagu dan Umbi Lainnya, seperti Kapurung / Papeda dan Loka Dipeapi. Kapurung / Papeda (Sulaesi & Papua) merupakan tepung sagu mentah murni yang dilarutkan sedikit air, lalu disiram air mendidih sambil diaduk cepat hingga mengental dan berubah tekstur menjadi bening seperti lem. Hidangan ini langsung disantap panas-panas bersama kuah ikan kuning yang asam pedas. Sedangkan Loka Dipeapi adalah sajian makanan pokok berbahan dasar pisang muda atau ubi-ubian tertentu yang dipotong-potong, lalu dimasak dengan bumbu minimalis atau santan hingga empuk untuk menggantikan posisi nasi di meja makan.
Buku ini juga mencatat pengaruh kuliner luar yang diadaptasi menggunakan bahan lokal. Olahan bahan lokal ini merupakan adopsi menu umbi internasional (gaya stamppot). Hutspot dan Stamppot adalah menu berbasis kentang kukus atau ubi yang ditumbuk kasar (mash), lalu dicampur dengan sayuran hijau seperti bayam (bajam) atau kol putih, serta diberi bumbu pala dan mentega.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....