Simbol Perlawanan Lewat Kuliner : Cakue
- 05 Mei 2025 10:09 WIB
- Denpasar
KBRN,Denpasar: Siapa sangka, hantu ternyata bisa digoreng lho!
Namun jangan salah sangka dulu. Hantu yang dimaksud merupakan terjemahan dari panganan asal tiongkok yaitu ’cakue’. Di balik bentuknya yang sederhana dan rasa gurihnya yang akrab di lidah, cakue menyimpan sejarah yang panjang dan menarik dari tanah Tiongkok. Penganan ini bukan sekadar gorengan biasa, tapi simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan.
Dalam bahasa Mandarin, cakue dikenal sebagai You Tiao, sementara nama "cakue" sendiri berasal dari dialek Hokkian, yakni cahkwe yang berarti "hantu goreng" atau secara harfiah you zha gui. Nama ini bukan sekadar sebutan unik, tapi punya akar sejarah yang kuat.
Dilansir dari Sejarah Cina, kisahnya bermula pada masa Dinasti Song. Seorang jenderal bernama Yue Fei, yang terkenal karena semangat nasionalismenya, difitnah dan dihukum mati oleh perdana menteri Qin Hui dan istrinya. Rakyat yang murka atas ketidakadilan ini kemudian menyimbolkan kebenciannya lewat makanan: mereka membentuk dua adonan menyerupai sosok manusia, lalu menggorengnya sebagai lambang penghukuman terhadap Qin Hui dan istrinya. Seiring waktu, makanan ini dikenal luas sebagai cakue.
| Baca juga: Lima Rekomendasi Toko Dessert di Bali |
Di daratan Tiongkok, cakue disebut dengan berbagai nama tergantung dialek, misalnya Zha Guo di wilayah Chaozhou dan Shantou. Kata "Guo" sendiri dalam bahasa Tionghoa berarti "kue". Meski asal-usul cakue masih menjadi perdebatan—antara Tiongkok dan Vietnam—jejaknya di Indonesia cukup jelas. Diperkirakan, penganan ini masuk ke Nusantara melalui para pedagang Tionghoa pada awal abad ke-20, dan sejak itu menjadi camilan favorit banyak kalangan.
Di Indonesia, cakue disajikan dalam beragam cara yang mencerminkan kekayaan budaya setempat. Di Surakarta, cakue disantap dengan susu kedelai hangat. Di Jawa Barat, camilan ini sering disajikan dengan saus sambal cair atau sambal kacang. Berbeda lagi dengan Pontianak dan Ketapang, di mana cakue memiliki rasa manis, disajikan dengan bubur kacang hijau dan dikukus bersama daun pandan. Di Tiongkok sendiri, cakue biasanya disantap dengan bubur panas atau dicelupkan ke susu kedelai—baik manis maupun asin. Tak jarang juga cakue disajikan bersama roti goreng atau digunakan sebagai topping bubur ayam, seperti yang lazim kita temukan di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....