Mengenal Makanan khas Desa Sanda

  • 02 Jan 2025 10:18 WIB
  •  Denpasar

KBRN. Tabanan: Makanan khas di Indonesia sangatlah beragam. Jangankan seluruh Indonesia, pulau kecil seperti Bali pun memiliki banyak sekali makanan khas Bali yang unik dan menggugah selera.

Seperti halnya ketika saya berkesempatan untuk ikut serta dalam arisan keluarga, kali ini destinasi wisata kuliner yang dituju adalah Kabupaten Tabanan. Ketika rombongan kami sampai di Desa Sanda, sebuah desa yang saat ini sedang berkembang sebagai Desa Wisata, terletak di Kecamatan Pupuan,Kabupaten Tabanan, Desa Sanda memiliki makanan khas yang disebut Entil.

Meskipun Entil mirip dengan lontong yang biasa kita jumpai di warung sate atau ketupat yang sering dimakan saat lebaran, Entil ternyata memiliki cerita unik yang menarik untuk diketahui. Proses memasak Entil sama seperti lontong dan ketupat pada umumnya, yaitu direbus dengan api sedang selama 4 – 5 jam sampai benar-benar lepah (berasnya matang sempurna dan melekat satu sama lain).

Bahan yang digunakan untuk membuat Entil tidak hanya beras putih namun juga dicampur dengan beras merah untuk mempercantik tampilan Entil dengan perbandingan 3 : 1. Perbedaan yang mendasar antara Entil dan lontong dapat dilihat dari pembungkusnya. Lontong dan ketupat pada umumnya dibungkus menggunakan daun pisang dan janur kelapa, sedangkan Entil dibungkus menggunakan daun Kalingidi (menyerupai daun kunyit tetapi tidak berbau).

Selain enak, entil juga kaya makna filosofi yang didasari oleh ritual dan upacara sesuai keyakinan Umat Hindu. Berdasarkan penuturan Ibu Srinasih dan Bapak Putu Wijana selaku pemilik usaha “Warung Dedi Entil Sanda”, Entil sebenarnya hanya dimasak sebagai sesajen saat Hari Raya Ulihan galungan saja. Sejak dulu, Entil dimasak oleh masyarakat Pupuan sebagai persembahan kepada Tuhan saat upacara Ulihan Galungan yang mengandung makna sebagai hari memberikan oleh-oleh kepada Dewa Pitara atau leluhur pada saat kembali ke Kahyangan.

Ulihan juga mengandung makna “kembali” yang diharapkan agar seluruh umat kembali ke kondisi bathin yang damai sama seperti saat hari raya Kemenangan (Galungan) dan terus mempertahankannya dengan mengarahkan pikiran kepada hal-hal yang positif. Terbukti, kini Entil menjadi makanan khas yang sangat diminati oleh masyarakat, terutama oleh wisatawan yang sengaja datang ke Pupuan hanya untuk mencicipi Entil. Jika dulu Entil dimasak dan dihidangkan bersama urutan, dendeng asap, krupuk, dan tum daun ubi, kini Entil dihidangkan dengan kuah santan, telur rebus, sayur ubi, kacang, serundeng, serta daging ayam suwir yang menggugah selera. Ditambah camilan keripik keladi yang renyah. Selama perjalanan itu saya sangat bangga akan satu hal. Bagaimana masyarakat tetap merupaya melestarikan alam dan kearifan lokal mereka yang dibalut dalam kreasi kuliner yang menggugah selera. Semoga saja semakin banyak kuliner lokal yang dapat diekpos dan menjadi makanan daerah yang mendunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....