Sering Alami Luka Memar? Begini Cara Penanganannya

  • 30 Sep 2026 13:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Luka memar merupakan kondisi umum yang bisa terjadi akibat benturan, terjatuh, atau aktivitas fisik berat. Luka Memar terjadi ketika pembuluh darah kecil di bawah kulit rusak atau pecah, sehingga darah merembes ke jaringan sekitarnya dan membeku. Hal ini menyebabkan kulit tampak kebiruan, merah, ungu, atau hitam, disertai bengkak dan nyeri.

Selain benturan akibat cedera atau kecelakaan, luka memar bisa disebabkan oleh olahraga yang terlalu berat, atau bahkan tanpa alasan yang jelas. Memar yang terjadi tanpa alasan jelas dan disertai gusi berdarah atau mimisan dapat menandakan adanya gangguan perdarahan.

Pada umumnya, memar bukan kondisi yang serius dan bisa hilang dengan sendirinya. Cukup dengan pengobatan rumahan Anda bisa membantu mempercepat proses penyembuhan memar. Namun, memar juga bisa terjadi sebagai tanda kondisi yang lebih parah, seperti terkilir atau patah tulang. Pada kondisi ini, memar biasanya mulai muncul dalam 30 menit setelah terjadinya cedera dan perlu penanganan medis dengan segera.

Dikutip dari ipb.ac.id, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed menyarankan, pada pertolongan pertama perlu diterapkan prinsip PRICE, yaitu protect, rest, ice, compression, dan elevation. Bagian tubuh yang cedera perlu dilindungi dan diistirahatkan. Kompres dingin selama 10–20 menit dapat membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Area cedera juga dapat dikompresi dengan perban elastis dan diposisikan lebih tinggi dari jantung.

Kesalahan yang sering terjadi adalah langsung dilakukan pemijatan pada lokasi cedera atau kompres yang digunakan adalah kompres panas. Pada 24–72 jam pertama, tindakan tersebut sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan aliran darah ke lokasi cedera sehingga berisiko memperparah perdarahan dan pembengkakan.

Menurut dr Agil, waktu pemulihan hematoma berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahan. Pada hematoma ringan yang tidak memerlukan penanganan operatif, atlet rata-rata dapat kembali berolahraga sekitar empat minggu. Namun, pada cedera yang lebih berat atau bahkan memerlukan tindakan operatif, pemulihan dapat membutuhkan waktu enam hingga delapan minggu atau lebih.

Disarankan tidak hanya berpatokan pada jumlah hari. Atlet sebaiknya kembali bertanding ketika sudah tidak mengalami nyeri, gerakan dan kekuatan otot sudah kembali normal, serta mampu melakukan gerakan olahraga seperti yang biasanya dilakukan, misalnya berlari atau melakukan gerakan perubahan arah (change of direction movement) sebagai latihan kelincahan, tanpa keluhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....