Talas, Alternatif Karbohidrat Kaya Serat dan Kalium Selain Nasi

  • 08 Sep 2026 06:43 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Talas (Colocasia esculenta) berpotensi menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat selain nasi. Umbi yang banyak digunakan dalam kuliner Asia dan Pasifik ini tidak hanya mengandung pati sebagai sumber energi, tetapi juga menyediakan serat pangan, kalium, kalsium, serta sejumlah senyawa bioaktif.

Kajian ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam Frontiers in Nutrition pada 2025 menyebutkan bahwa talas memiliki komponen nutrisi seperti pati, serat pangan, kalium, kalsium, serta berbagai senyawa bioaktif. Penelitian tersebut juga menyoroti keberadaan pati resisten dan potensi prebiotik talas yang menjadi perhatian dalam penelitian pangan dan kesehatan.

Sementara itu, data kandungan gizi yang dikutip dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dan USDA FoodData Central menunjukkan bahwa 100 gram talas segar mengandung sekitar 108 kilokalori energi, 25 gram karbohidrat, 1,4 gram protein, 0,4 gram lemak, dan 1,8 gram serat.

Kandungan karbohidrat membuat talas dapat digunakan sebagai salah satu sumber energi dalam menu sehari-hari. Konsumsi sumber karbohidrat yang beragam juga dapat memperkaya pilihan pangan masyarakat, tidak hanya bergantung pada nasi.

Selain karbohidrat, talas mengandung serat pangan. Serat berperan penting dalam kesehatan saluran pencernaan dan menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Kajian dalam Frontiers in Nutrition juga menunjukkan bahwa talas memiliki kandungan serat dan pati resisten yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, termasuk kaitannya dengan kesehatan metabolik dan mikrobiota usus. Namun, temuan mengenai manfaat tersebut tidak seharusnya diartikan sebagai klaim bahwa mengonsumsi talas dapat mencegah atau mengobati penyakit tertentu.

Talas juga menjadi sumber mineral, termasuk kalium dan kalsium. Kalium dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi fisiologis, termasuk membantu menjaga keseimbangan cairan serta mendukung fungsi otot dan saraf.

Penelitian ilmiah mengenai komposisi talas menunjukkan bahwa kandungan mineral dan zat gizi dapat berbeda berdasarkan varietas, kondisi budidaya, serta bagian tanaman yang diteliti. Karena itu, angka kandungan gizi dapat berbeda antara satu sumber pangan dan sumber lainnya.

Selain kandungan gizinya, cara mengolah talas menjadi perhatian penting. Talas mengandung oksalat yang perlu diperhatikan sebelum dikonsumsi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Food Composition and Analysis menemukan bahwa perebusan dapat menurunkan kadar oksalat larut pada umbi talas. Penelitian lain mengenai metode pengolahan talas juga menunjukkan bahwa perebusan, pengukusan, pemanggangan, maupun penggorengan dapat memengaruhi komposisi kimia, daya cerna pati, dan kandungan senyawa bioaktif talas.

Karena itu, talas sebaiknya tidak dikonsumsi dalam kondisi mentah dan perlu dimasak hingga matang. Pengolahan yang tepat juga membantu mengurangi senyawa antinutrisi tertentu.

Talas dapat disajikan sebagai sumber karbohidrat dalam menu utama, misalnya melalui olahan talas kukus atau rebus. Agar lebih seimbang, talas dapat dipadukan dengan lauk sumber protein, sayuran, dan buah.

Pilihan metode memasak juga penting. Talas kukus dan rebus dapat menjadi pilihan sederhana, sedangkan olahan yang digoreng perlu dikonsumsi secara lebih terbatas karena proses penggorengan dapat meningkatkan kandungan lemak dan energi makanan. Penelitian dalam International Journal of Food Science and Technology menunjukkan bahwa metode memasak memberikan pengaruh berbeda terhadap komposisi nutrisi talas.

Keberadaan talas sebagai pangan lokal memberikan pilihan bagi masyarakat untuk melakukan diversifikasi sumber karbohidrat. Umbi ini dapat diolah menjadi berbagai hidangan, seperti talas kukus, talas rebus, sup talas, perkedel, hingga berbagai makanan tradisional.

Dengan kandungan karbohidrat, serat, kalium, dan mineral lainnya, talas dapat menjadi bagian dari pola makan beragam dan bergizi seimbang. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada jumlah konsumsi, cara pengolahan, serta komposisi makanan secara keseluruhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....