Penanganan Medis Terlambat Picu Stigma Gangguan Mental Berat

  • 12 Agt 2026 20:35 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Keterlambatan masyarakat dalam mencari penanganan medis professional, bagi penderita gangguan mental berat masih menjadi masalah serius, yang memicu stigma negatif di Bali. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya L, SpKJ(K), MARS., mengungkapkan fakta bahwa sekitar 70 persen pasien gangguan mental, terlebih dahulu dibawa ke pengobat tradisional sebelum dirujuk ke psikiater.

Prof. Cok. Bagus mengatakan bahwa anggapan gangguan mental murni akibat faktor nonmedis memicu keterlambatan penanganan. "Kondisi kita di masyarakat memang masih ada yang meyakini bahwa gangguan mental itu, tidak sepenuhnya karena kondisi medis, tetapi justru karena ada pengaruh roh," ungkap Prof. Cok. Bagus ketika berbincang dalam program acara Rahina Ayu di Pro 4 RRI Denpasar, Kamis, 6 Agustus 2026.

Prof. Cok. Bagus menambahkan masyarakat sering kali mengabaikan tanda-tanda awal medis, dan memilih mendatangi balian atau pengobat tradisional. Keterbatasan jumlah psikiater yang hanya berkisar 70 orang untuk melayani 4,5 juta penduduk Bali makin memperlebar jarak akses kesehatan profesional.

Akibat pengobatan nonmedis yang berulang tanpa hasil, menurut Prof. Cok. Bagus, pasien sering datang ke fasilitas kesehatan saat kondisi kejiwaannya sudah memburuk. "Ketika terjadi keterlambatan penanganan, ini kemudian membuat proses kesembuhannya menjadi lebih sulit," ujar Prof. Cok.Bagus.

Prof. Cok. Bagus mengungkapkan proses pemulihan yang memakan waktu lama, pada kasus terlambat penanganan medis ini, kerap disalahartikan masyarakat sebagai kegagalan medis yang tak terobati. Fenomena salah kaprah tersebut, memperkuat stigma bahwa penderita gangguan mental, tidak dapat disembuhkan sehingga akhirnya ditelantarkan di rumah.

Oleh karena itu, Prof. Cok. Bagus menekankan, kolaborasi antara pemahaman budaya dan tindakan medis yang tepat sangat dibutuhkan, agar penanganan dini dapat dilakukan. Integrasi penanganan yang tanggap, akan mengembalikan fungsi sosial penderita gangguan mental secara lebih optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....