Dampak Buruk Menahan Buang Air Besar bagi Kesehatan Tubuh
- 19 Jun 2026 12:06 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Menahan buang air besar (BAB) adalah hal yang sesekali pernah dilakukan oleh hampir setiap orang. Alasan utamanya biasanya karena kesibukan di tengah aktivitas kerja, perjalanan jauh, hingga rasa tidak nyaman saat harus menggunakan fasilitas toilet umum.
Meskipun sering dianggap sebagai perkara sepele, membiarkan kebiasaan ini berulang dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius pada sistem pencernaan. Tubuh manusia memiliki alarm alami bernama refleks rektosfingterik.
Ketika feses atau kotoran sisa pencernaan masuk ke rektum (bagian ujung usus besar), dinding rektum akan meregang dan mengirimkan sinyal ke otak bahwa sudah waktunya untuk mengosongkan perut. Berdasarkan ulasan medis dari para dokter di platform kesehatan Halodoc, ketika sinyal alami ini sengaja diabaikan atau ditahan, tubuh akan dipaksa menyerap kembali cairan dari kotoran tersebut secara terus-menerus, yang akhirnya memicu berbagai komplikasi medis.
Mengabaikan panggilan alam ini memiliki efek domino yang merugikan fungsi organ dalam tubuh. Menurut panduan kesehatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), berikut adalah beberapa dampak buruk yang terjadi akibat kebiasaan menahan BAB:
1. Sembelit Akut (Konstipasi)
Ini adalah dampak paling instan yang dirasakan tubuh. Semakin lama kotoran tertahan di dalam usus besar, semakin banyak air yang diserap kembali oleh tubuh dari kotoran tersebut. Tinjauan medis Halodoc menyebutkan bahwa kondisi ini membuat feses menjadi sangat kering, keras, dan padat, sehingga proses BAB berikutnya menjadi sangat sulit dan membutuhkan usaha mengejan yang kuat.
2. Ambeien atau Wasir (Hemoroid)
Ketika feses sudah mengeras akibat terlalu lama ditahan, Anda akan dipaksa untuk mengejan dengan keras saat mencoba mengeluarkannya. Tekanan yang kuat dan berulang pada area anus ini menyebabkan pembuluh darah di sekitar rektum dan dubur mengalami pembengkakan serta peradangan. Jika terus dibiarkan, pembuluh darah ini bisa pecah dan menyebabkan BAB berdarah.
3. Fecal Impaction (Penyumbatan Usus)
Pada kasus yang lebih parah, menahan BAB selama berhari-hari dapat menyebabkan kondisi yang disebut fecal impaction. Ini adalah situasi di mana massa feses yang keras dan kering bersatu hingga membentuk gumpalan besar yang menyumbat saluran usus besar (kolon) atau rektum. Kotoran yang menyumbat ini tidak akan bisa keluar dengan cara mengejan biasa dan memerlukan intervensi medis khusus dari dokter.
4. Fisura Ani (Luka Sobek pada Anus)
Melewati feses yang keras dan berukuran besar akibat penundaan BAB dapat meregangkan saluran anus di luar batas normalnya. Dampaknya adalah timbulnya robekan kecil pada jaringan kulit atau dinding membran mukosa di sekitar anus. Luka ini akan menimbulkan rasa perih yang luar biasa tajam saat duduk atau saat buang air besar berikutnya.
5. Risiko Megakolon
Dalam jangka panjang, kebiasaan menahan buang air besar dapat meregangkan otot-otot usus besar secara permanen, sebuah kondisi yang disebut megakolon. Otot usus yang melemah ini akan kehilangan kemampuan untuk mendorong kotoran keluar secara mandiri, sehingga penumpukan kotoran berisiko memicu infeksi berat di dalam rongga perut.
Merespons sinyal tubuh dengan segera adalah langkah pencegahan terbaik. Disarankan untuk segera menerapkan pola makan tinggi serat, minum air putih yang cukup, dan menetapkan jadwal rutin harian untuk ke toilet agar kerja usus kembali teratur.
Namun, jika kebiasaan menahan BAB ini telah memicu gejala penyerta seperti nyeri perut yang hebat, demam, mual dan muntah, tidak bisa buang angin (kentut), atau keluar darah saat buang air besar, Kemenkes RI mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan atau berkonsultasi dengan dokter spesifik guna mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Sistem pencernaan yang sehat adalah kunci utama dari imunitas dan kebugaran tubuh secara keseluruhan. Dengan tidak menunda-nunda panggilan biologis tubuh, kita tidak hanya menghindari rasa tidak nyaman di perut, tetapi juga menjaga fungsi jangka panjang organ pencernaan dari risiko kerusakan yang fatal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....