Mengapa Perut Tetap Terasa Lapar Meski Baru Saja Makan?

  • 12 Agt 2026 06:25 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kondisi tetap merasa lapar padahal baru saja menyelesaikan porsi makan kerap dialami oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia medis, fenomena rasa lapar berlebih atau tidak kunjung reda ini dikenal dengan istilah polifagia.

Berdasarkan penjelasan ilmiah dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) serta panduan medis Harvard Health Publishing, sensasi ini umumnya tidak berkaitan dengan kapasitas lambung yang kurang, melainkan dipicu oleh mekanisme hormon, komposisi nutrisi, hingga pola hidup harian. Penyebab utama dari kondisi ini sering kali bermula dari jenis asupan yang dikonsumsi.

Berdasarkan studi nutrisi yang dirilis oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health, mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat sederhana seperti nasi putih, mi, atau minuman manis membuat gula darah melonjak cepat namun kembali anjlok dalam waktu singkat. Penurunan gula darah secara mendadak (blood sugar crash) inilah yang memicu otak mengirimkan sinyal lapar kembali seolah-olah tubuh kehabisan energi.

Sebaliknya, makanan yang kaya akan serat, protein, dan lemak sehat membutuhkan waktu pencernaan yang jauh lebih lama. Sebagaimana dicatat dalam laporan National Institutes of Health (NIH), asupan nutrisi tersebut secara aktif menstimulasi pelepasan hormon penekan rasa lapar (seperti GLP-1 dan PYY) sekaligus menekan hormon ghrelin, sehingga mampu mempertahankan rasa kenyang lebih lama.

Selain faktor nutrisi, dehidrasi atau kurangnya asupan air putih juga menjadi pemicu yang sering tidak disadari. Menurut temuan klinis dari Mayo Clinic, otak sering kali sulit membedakan antara sinyal haus dan sinyal lapar karena keduanya dikendalikan oleh area yang sama di hipotalamus. Ketika tubuh kekurangan cairan, respon yang muncul kerap kali disalahartikan sebagai rasa ingin mengunyah makanan.

Faktor gaya hidup seperti kurang tidur dan tingkat stres yang tinggi turut memegang peranan penting. Laporan riset dari Sleep Foundation menunjukkan bahwa kurangnya waktu istirahat memicu peningkatan hormon ghrelin yang merangsang nafsu makan, sekaligus menekan hormon leptin yang berfungsi memberikan sinyal kenyang.

Di sisi lain, American Psychological Association (APA) mencatat bahwa paparan stres memicu pelepasan hormon kortisol yang secara alami mendorong tubuh untuk mencari makanan tinggi gula dan lemak. Untuk mengatasinya, para ahli kesehatan dari Kemenkes RI menganjurkan masyarakat untuk menerapkan pola mindful eating atau mengunyah makanan secara perlahan, mencukupi kebutuhan air putih harian, serta menyusun piring makan dengan gizi seimbang.

Namun, jika rasa lapar terus-menerus muncul secara tidak wajar dan disertai gejala lain seperti lemas, sering haus, atau penurunan berat badan, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan untuk mengantisipasi indikasi kondisi kesehatan seperti resistensi insulin, diabetes, atau hipertiroidisme.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....