Menjinakkan Amarah Melalui Meditasi

  • 25 Jul 2026 11:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar Menjadi kewajaran apabila kita sering teringat pada pengalaman yang menyakitkan dan membangkitkan rasa marah. Selain itu, ada rasa trauma, perasaan tentang kengerian dan rapuhnya pikiran kita memicu adrenalin.

Buku The Psychology of Emotion karya David J. Lieberman pada bab 26 tentan Menerima Kenyataan Dengan Meditasi Dan Visualisasi menerangkan, adrenalin yang menyebabkan ingatan lampau kembali menguat, dan tetap menghantui kita selama berbulan-bulan. Rasa marah menghalangi kemampuan kita melihat dengan jelas. Hal ini dikarenakan ego melencengkan perspektif kita.

Ketika marah, kemampuan kita untuk memproses informasi secara intelektual menurun karena dampak kadar kortisol yang naik. Selain itu, biarpun kita bermaksud baik, stres jenis apa pun akan melemahkan tekad kita, dan pikiran kacau serta sistem saraf tegang akan menghambat usaha kita untuk menjaga ketenangan.

Sebaliknya, semakin tenang kita dalam situasi biasa, semakin mudah kita mengendalikan marah pada masa sulit. Bagaimana cara menenangkan pikiran? Satu cara efektif untuk menenangkan sistem saraf saat situasi marah adalah meditasi.

David Lieberman menjelaskan, dalam mengelola emosi, manusia dapat memanfaatkan koneksi pikirannya dengan tubuh. Meditasi memiliki akar mendalam di hampir setiap agama besar atau praktik spiritual. Meditasi jadi salah satu yang sangat berguna dari beragam strategi manajemen stress efektif yang bisa membantu kita melatih pengendalian diri.

Buku yang yang diterjemahkan dari Never Get Angry Again ini menerangkan penelitian penting tentang meditasi. Tidak hanya dilakukan untuk menenangkan perasaan saja, orang-orang yang bermeditasi sekitar 30 menit sehari selama 8 minggu berturut-turut berdampak pada otak. Bukti ini diperoleh dari pemindaian MRI otak, yang menunjukkan berkurangnya zat kelabu di amigdala, area yang bertanggung jawab atas kegelisahan dan stress.

Dalam proses meditasi, riset yang dilakukan oleh Grossman dan Loren (2004) dalam on combat : the psychology and physiology of deadly conflict in war and in peace juga menerangkan, bahwa bernafas dalam-dalam dan perlahan mengaktifkan konteks prefrontal, bagian otak yang berpikir.

Para professional seperti penegak hukum dan prajurit militer misalnya, melawan stres mereka dengan bernapas taktis yang membantu mengendalikan sistem saraf simpatetik. Ketika ada dalam situasi yang membahayakan, mereka melakukan beberapa tarikan napas dalam, secara berturut turut akan membantu mereka untuk berpikir lebih jernih dan bertindak lebih efektif.

Bukti lainnya tentang manfaat meditasi dalam mengotrol amarah dilakukan oleh Herbert Benson, M.D., profesor kedokteran di Harvard Medical School yang menulis atau menjadi penulis pendamping lebih daripada 170 makalah. Ia melaporkan bahwa meditasi teratur mengurangi tingkat kegelisahan, kekhawatiran, serta pikiran dan ketakutan yang tidak membangun, juga meningkatkan kebahagiaan individual.

"Meditasi menyebabkan banyak perubahan biokimia dan fisik dalam tubuh yang secara kolektif disebut sebagai 'tanggapan relaksasi'. Tanggapan relaksasi mencakup perubahan metabolisme, detak jantung pernapasan, tekanan darahdan keadaan kimia otak." Terang Herbert dalam makalahnya.

Temuan-temuan lain menunjukkan bahwa meditasi menambah kesehatan psikologis secara keseluruhan, dengan berbagai manfaat yang mencakup peningkatan rasa percaya diri, pengendalian diri, empati, dan aktualisasi diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....