Kenali Penyebab Diabetes di Usia Produktif
- 02 Jul 2026 14:58 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Diabetes Mellitus sering kali dianggap sebagai "penyakit orang tua" yang baru akan mengintai saat seseorang memasuki usia kepala lima. Namun, realita klinis saat ini menunjukkan pergeseran tren yang mencengangkan.
Penyakit metabolik kronis ini semakin akrab menyerang generasi muda di usia produktif, mulai dari rentang 25 hingga 45 tahun. Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) Bali dr. Luh Putu Dea Sasmita Pralambari, SpPD, menyatakan, untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami kelebihan gula di dalam darah, intervensi medis melalui pengujian laboratorium mutlak diperlukan.
Menurutnya, masyarakat selama ini akrab dengan alat screening stick atau glukometer mandiri melalui tusukan di ujung jari. Namun, untuk memastikan nilai yang benar-benar akurat, rekomendasi terbaik adalah menggunakan sampel darah vena.
Pengambilan darah vena dinyatakan lebih baik daripada metode tusuk jari karena menghasilkan sampel darah yang lebih murni, stabil, serta lebih akurat. Pemeriksaan ini umumnya dibagi menjadi dua skema, yaitu gula darah puasa dan gula darah sewaktu.
Menurut dr. Dea, secara patofisiologi, diabetes dipicu oleh satu muara utama, yaitu gangguan pada hormon insulin, sebuah hormon regulasi yang diproduksi oleh organ pankreas. Gangguan ini bisa berupa absennya produksi insulin, ketidakmampuan insulin bekerja maksimal atau kombinasi tumpang tindih dari kedua kondisi tersebut.
Meskipun diabetes memiliki variasi tipe, termasuk tipe bawaan sejak lahir maupun kondisi autoimun, fenomena yang mendominasi kasus usia produktif saat ini adalah faktor pola hidup atau lifestyle habit. "Banyak kasus sekarang, setelah kita gali, tidak ada faktor lain kecuali dari pola hidup pasien itu sendiri. Ini adalah hasil dari tabungan kebiasaan yang kurang baik yang dikumpulkan sedikit demi sedikit," jelas dr. Dea saat diwawancara oleh rri.co.id pada Jumat 26 Juni 2026.
| Baca juga: Cegah Karies Gigi pada Anak sejak Dini |
Banyak orang salah kaprah dan menganggap pasrah jika memiliki orang tua penyandang diabetes, mengira penyakit ini mutlak otomatis menurun. Secara medis, faktor genetika memang meningkatkan risiko atau kerentanan seseorang terhadap diabetes.
Namun, genetika bukanlah vonis mati. Analologinya menyerupai bibit tanaman.
Faktor genetik adalah bibit yang sudah tertanam di dalam tubuh. Jika seseorang yang memiliki riwayat keluarga tetap abai dan menerapkan pola hidup buruk, ia sama saja sedang "menyiram" bibit tersebut sehingga diabetes terdiagnosis jauh lebih cepat di usia muda.
Sebaliknya, jika alarm kesadaran muncul lebih awal dan diimbahi dengan modifikasi gaya hidup sehat, risiko jatuh ke kondisi diabetes dapat ditekan secara signifikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....