FOMO vs JOMO: Dua Sudut Pandang di Era Media Sosial
- 25 Jun 2026 12:10 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Arus informasi di media sosial kini mengalir sangat deras setiap hari. Kondisi ini membuat banyak orang merasa wajib mengikuti setiap tren terbaru.
Perasaan takut tertinggal ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Fenomena tersebut sering membuat seseorang cemas jika tidak mengikuti suatu peristiwa.
Istilah FOMO diperkenalkan oleh pakar pemasaran, Dan Herman. Konsep ini semakin populer setelah diteliti oleh Andrew K. Przybylski pada 2013.
Penelitian itu menjelaskan FOMO muncul akibat kekhawatiran berlebih. Seseorang merasa orang lain menikmati pengalaman yang jauh lebih menarik.
Media sosial menjadi pemicu utama munculnya perasaan FOMO ini. Pengguna terus terpapar unggahan pencapaian dan gaya hidup orang lain.
Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya sendiri kurang menarik. Padahal, apa yang tampil di media sosial belum tentu kenyataan.
Sebagai penyeimbang, muncul konsep Joy of Missing Out (JOMO). Konsep ini mengajak seseorang merasa nyaman dengan pilihan hidupnya.
JOMO menekankan bahwa tidak semua tren harus selalu diikuti. Tidak semua aktivitas harus dihadiri hanya demi pengakuan sosial.
Konsep JOMO populer seiring kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Pendekatan ini fokus pada kebutuhan pribadi, bukan membandingkan diri.
Kajian psikologi menunjukkan FOMO berkaitan erat dengan peningkatan stres. Fenomena ini juga bisa menurunkan tingkat kepuasan hidup seseorang.
Sebaliknya, JOMO membantu seseorang lebih menikmati momen saat ini. Hal ini mampu membangun rasa syukur dan menjaga kesehatan mental.
FOMO dan JOMO menggambarkan dua cara menyikapi kehidupan digital. Keduanya memberikan dampak yang berbeda bagi kondisi psikologis individu.
JOMO mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak datang dari mengikuti tren. Kebahagiaan sejati hadir dari kemampuan menghargai apa yang dimiliki.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....