Benarkah Sabar Memiliki Batas dan Mengapa Setiap Orang Berbeda?
- 15 Mei 2026 18:42 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Kesabaran ada batasnya merupakan kalimat yang sering diucapkan saat seseorang merasa sudah mencapai titik puncak tekanan. Namun, dari sudut pandang psikologi dan sains, benarkah kesabaran merupakan sebuah sumber daya yang bisa habis, ataukah ia merupakan keterampilan yang bisa terus dilatih?
Kesabaran sering kali didefinisikan sebagai kemampuan untuk menahan diri dalam situasi sulit atau saat menghadapi penundaan tanpa menjadi marah atau kesal. Secara biologis, kesabaran berkaitan erat dengan fungsi Korteks Prefrontal di otak, bagian yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pengambilan keputusan logis.
Seorang pakar psikologi sosial dari Florida State University, Roy Baumeister, memperkenalkan teori bernama Ego Depletion. Dalam risetnya, Baumeister menjelaskan bahwa pengendalian diri termasuk kesabaran bekerja seperti otot. Jika terus-menerus digunakan tanpa istirahat, "otot" tersebut akan mengalami kelelahan. Itulah sebabnya seseorang cenderung lebih mudah marah di sore hari setelah seharian menghadapi tekanan pekerjaan yang menguras emosi.
Perbedaan ambang batas kesabaran antarindividu dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, pola asuh, dan pengalaman hidup. Berikut adalah beberapa alasan ilmiahnya:
Fungsi Amigdala dan Regulasi Emosi: Setiap orang memiliki sensitivitas amigdala (pusat emosi otak) yang berbeda. Orang dengan regulasi emosi yang kuat mampu memproses rangsangan negatif secara lebih tenang sebelum bereaksi.
Kadar Dopamin: Studi dalam jurnal Journal of Neuroscience menunjukkan adanya kaitan antara kadar dopamin di otak dengan kemampuan seseorang untuk menunggu imbalan (kesabaran). Orang dengan sistem dopamin tertentu cenderung lebih impulsif dan sulit bersabar.
Pengalaman Masa Kecil: Lingkungan yang stabil saat tumbuh kembang membantu seseorang membangun rasa percaya diri bahwa situasi sulit akan berlalu, yang secara tidak langsung membentuk ketahanan mental atau kesabaran yang lebih tinggi.
Meskipun setiap orang lahir dengan temperamen yang berbeda, para ahli menekankan bahwa kesabaran adalah keterampilan kognitif yang bisa ditingkatkan.
Dalam buku "The Power of Patience", penulis M.J. Ryan menjelaskan bahwa kesabaran dapat dilatih melalui teknik mindfulness dan reorganisasi cara berpikir (cognitive reframing). Dengan melatih otak untuk melihat tantangan sebagai proses, bukan hambatan, seseorang dapat memperlebar "batas" kesabaran yang selama ini dirasa sempit.
Memahami bahwa kesabaran melibatkan kerja fisik otak dan mental dapat membantu kita lebih berempati, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Kesabaran mungkin terasa memiliki batas, namun dengan pengelolaan stres yang tepat dan latihan yang konsisten, batas tersebut dapat terus diperluas demi kesehatan mental yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....