Makanan Kariogenik, Pengaruhi Pertumbuhan Plak dan Merusak Gigi

  • 13 Jun 2026 11:16 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis kini telah menjadi gaya hidup masyarakat. Mulai dari camilan sore, permen, hingga segelas minuman the boba menjadi pilihan untuk memperbaiki suasana hati.

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun menikmatinya. Di balik kelezatan tersebut, ada ancaman yang membahayakan kesehatan rongga mulut, yaitu karies atau gigi berlubang yang dipicu oleh makanan kariogenik.

Dr. drg. Eko Sri Yuni Astuti, Sp. KGA, akademisi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar mengungkapkan bahwa kasus karies sangat sering ditemui, bahkan sejak usia dini. Salah satu pemicu utamanya adalah kebiasaan buruk pada masa kanak-kanak, seperti kebiasaan minum susu menggunakan botol dot menjelang tidur.

"Gigi depan atau kita sebut gigi anterior itu paling sering terkena karies. Apalagi kalau anak kecil yang mempunyai kebiasaan nyusu atau ngedot dari kecil. Susu itu mengandung sukrosa, sehingga menjadi penyebab utama terjadinya gigi berlubang," ujar praktisi kesehatan gigi dalam sebuah edukasi kesehatan.

Apa Itu Makanan Kariogenik?

Bagi sebagian besar masyarakat, istilah "kariogenik" mungkin terdengar asing. Secara medis, makanan kariogenik adalah jenis makanan yang kaya akan karbohidrat sederhana, terutama gula rafinasi dan sukrosa.

Jenis makanan ini memiliki sifat yang sangat mudah difermentasi oleh mikroorganisme di dalam mulut. Dengan kata lain, makanan manis dan lengket merupakan "bahan bakar" utama bagi bakteri untuk merusak gigi.

Menyadur laman Halodoc, kerusakan gigi tidak terjadi dalam semalam saja, namunmelalui proses kimiawi yang melibatkan bakteri alami di dalam mulut, seperti Streptococcus mutans secara bertahap. Saat seseorang mengonsumsi makanan tinggi gula, bakteri pada lapisan plak akan langsung mencerna gula tersebut melalui proses fermentasi.

Produk sampingan dari fermentasi bakteri ini adalah zat asam. Asam ini menyebabkan derajat keasaman (pH) rongga mulut merosot tajam hingga di bawah batas kritis (pH < 5,5). Dalam kondisi lingkungan yang terlalu asam, mineral penting seperti kalsium dan fosfat pada email gigi akan mulai melarut. Fase keroposnya pertahanan gigi ini disebut demineralisasi.

Sebenarnya, tubuh manusia memiliki sistem pertahanan alami berupa air liur yang berfungsi mengencerkan asam dan mengembalikan mineral gigi. Namun, kapasitas air liur memiliki batas.

Jika frekuensi mengonsumsi camilan manis terlalu sering tanpa jeda, air liur tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan kondisi mulut. Selain kandungan gula, tingkat kerusakan gigi juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik makanan yang dikonsumsi seperti biskuit, cokelat, atau keripik memiliki waktu tinggal yang lama di dalam mulut karena mudah terselip di celah gigi dan sulit dibilas air liur.

Mengonsumsi makanan manis sedikit demi sedikit sepanjang hari jauh lebih berbahaya dibandingkan mengonsumsinya sekaligus, karena membuat mulut berada dalam kondisi asam secara konstan. Selain itu, jarang menyikat gigi membuat plak menumpuk, sehingga mempercepat proses pembentukan lubang.

Dr. Yuni menyebut, adanya makanan kariogenik bukan berarti masyarakat harus menghindari secara total rasa manis dari menu harian. Kuncinya terletak pada frekuensi sikat gigi dan kendali diri.

Mengurangi frekuensi camilan manis di antara waktu makan utama, memilih makanan penutup yang tidak lengket, serta disiplin menyikat gigi dua kali sehari setelah makan, akan menjaga gigi agar tetap sehat. Menjaga kebersihan rongga mulut sejak dini jauh lebih mudah dan ekonomis daripada harus menjalani perawatan medis akibat gigi yang telanjur rusak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....