Anak Pendiam Belum Tentu Baik-Baik Saja

  • 17 Mei 2026 17:39 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Anak pendiam dan jarang membuat masalah sering kali dianggap sebagai sosok yang penurut. Padahal, kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa sang anak benar-benar merasa nyaman secara emosional.

Dalam banyak kasus, sikap terlalu sering memendam perasaan justru menandakan adanya masalah psikologis. Anak memilih diam biasanya karena takut dimarahi atau merasa tidak pernah didengar pendapatnya.

Berbagai kajian psikologi anak menyebut setiap individu memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan emosinya. Sebagian anak memang memiliki kepribadian introvert sehingga lebih nyaman bersikap tenang.

Namun, ada pula anak yang diam akibat mengalami tekanan emosional di lingkungannya. Mereka cenderung menyimpan masalah sendiri, mudah cemas, serta kerap menghindari interaksi sosial.

Kondisi tersebut umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal di dalam rumah. Mulai dari pola asuh terlalu keras hingga kebiasaan membandingkan dengan orang lain.

Pelarangan mengekspresikan emosi seperti kalimat larangan menangis juga dinilai memperburuk kondisi anak. Dalam jangka panjang, anak bakal kesulitan memahami serta menyampaikan perasaannya sendiri.

Para psikolog klinis mengingatkan orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka di rumah. Anak sebaiknya diberi ruang menyampaikan rasa sedih maupun kecewa tanpa dihakimi.

Orang tua juga disarankan untuk lebih peka terhadap setiap perubahan perilaku anak. Tindakan mendengarkan cerita secara perlahan dinilai efektif membantu anak merasa aman terbuka.

Anak yang tenang memang tidak selalu memiliki masalah dalam dirinya. Namun, sikap diam tersebut jangan langsung dianggap sebagai tanda semuanya baik-baik saja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....