Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja: Membantu atau Memperburuk?
- 13 Apr 2026 16:33 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Kehadiran media sosial di tengah kehidupan remaja saat ini menjadi bagian yang sulit dipisahkan. Di satu sisi, platform digital membuka akses luas terhadap informasi, ruang berekspresi, hingga dukungan sosial. Namun di sisi lain, penggunaan yang tidak bijak justru berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja.
Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 9 April 2026, isu ini menjadi perhatian seiring meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada usia remaja. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, menyebutkan bahwa hampir 35 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental, sebuah angka yang menunjukkan kerentanan kelompok usia ini.
Remaja berada pada fase pencarian jati diri yang penuh dinamika. Di tengah proses tersebut, media sosial sering menjadi tempat pelarian sekaligus ruang eksplorasi. Sayangnya, tidak semua konten yang dikonsumsi memberikan dampak positif.
“Remaja banyak mencari hiburan dan informasi melalui media sosial. Namun tanpa pendampingan, mereka bisa terpapar konten negatif, mulai dari perundungan hingga informasi yang menyesatkan,” jelasnya.
Fenomena lain yang muncul adalah kecenderungan remaja membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Standar kehidupan yang ditampilkan secara visual sering kali tidak mencerminkan realitas, namun dapat memicu rasa tidak percaya diri, kecemasan, hingga perasaan tidak cukup baik.
Di sisi lain, residen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dr. Saiful Bahri, menyoroti bahwa media sosial juga dapat memengaruhi cara remaja memahami kondisi emosionalnya. Kemudahan akses informasi membuat mereka lebih cepat mengenali istilah-istilah kesehatan mental, tetapi tidak selalu diiringi pemahaman yang tepat.
“Informasi itu terbuka luas, tapi tanpa pemahaman yang benar bisa menimbulkan salah persepsi. Bahkan ada kecenderungan remaja melakukan self-diagnose hanya berdasarkan apa yang mereka baca di internet,” ujarnya.
Meski demikian, media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif. Jika dimanfaatkan dengan bijak, platform digital dapat menjadi sarana edukasi, kreativitas, hingga dukungan emosional. Banyak remaja yang memanfaatkan media sosial untuk berbagi pengalaman, membuat konten positif, hingga membangun komunitas yang saling mendukung.
Kunci utamanya terletak pada pendampingan dan literasi digital. Orang tua memiliki peran penting dalam mengarahkan penggunaan media sosial agar tetap sehat dan seimbang. Selain itu, komunikasi yang terbuka juga diperlukan agar remaja tidak merasa sendiri ketika menghadapi tekanan.
“Remaja perlu ruang untuk berekspresi, tapi juga perlu arahan. Orang tua tidak bisa sepenuhnya melarang, melainkan harus hadir dan mendampingi,” dr. Saiful Bahri.
Perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari juga perlu diwaspadai sebagai kemungkinan dampak dari penggunaan media sosial yang tidak sehat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, media sosial ibarat dua sisi mata pisau. Ia bisa menjadi sarana yang membantu perkembangan remaja, namun juga berpotensi memperburuk kondisi mental jika tidak digunakan secara bijak. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pendampingan menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....